Tanpa Restu, Apakah Masih Bisa Menikah?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pernikahan menjadi puncaknya suatu hubungan yang tengah dijalani. Untuk sampai ditahap ini, ada banyak hal yang harus dilalui oleh kedua belah pihak.

Tidak hanya mental dan materi saja yang perlu disiapkan, restu dari orang tua dan keluarga dekat pun menjadi salah satu hal penting yang harus disiapkan. Hal ini karena, pernikahan sama dengan menyatukan dua keluarga besar yang tentu memiliki berbagai macam perbedaan. Dimana, kedua belah pihak keluarga yang berbeda tersebut harus saling mendukung dan menyetujui agar hubungan lebih terasa mudah dan menyenangkan untuk dijalani.

Tentu membangun pernikahan atas dasar restu dari orang tua dan dua keluarga besar akan terasa lebih menyenangkan. Tapi bagaimana jika sudah menjalin hubungan, dan berniat melangsungkan pernikahan, kedua keluarga belum memberikan restu?

Melalui channel youtubenya, Marry Riana mengungkapkan bahwa setiap hubungan tentu akan melewati berbagai macam ujian dan cobaan. Ketika hubungan terhalang restu dari orang tua dan keluarga, itu adalah bentuk ujian.

“Ketika jodoh terhalang restu, ingatlah jika setiap hubungan akan melewati berbagai ujian dan cobaan. Ketika restu belum ada, itu adalah ujian untuk ketulusan cinta kamu berdua,” ucap Marry Riana seorang Motivator.

Motivator cantik ini pun mengingatkan agar kita lebih memahami sudut pandang dari orang tua dan keluarga besar, terkait restu yang tidak kunjung diberikan tersebut. Selain itu, menunjukkan kesungguhan dengan perbuatan pun menjadi point penting untuk dilakukan.

“Dan jika restu dari orang tua belum kunjung tiba, cobalah untuk mengerti sudut pandangnya. Yakinkan bukan hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan bukti nyata. Karena menikah bukan hanya jatuh cinta, tapi juga bangun cinta. Jika kamu benar-benar cinta, tunjukkan kesungguhan itu pada orang tua,” ucapnya.

Setelah segala usaha dilakukan, dan restu masih tidak kunjung datang, jangan lupa untuk selalu bersabar. Terkadang kita diuji untuk lebih sabar dalam penantian. Marry Riana mengungkapkan untuk lebih bersabar, hingga waktulah yang memberikan restu untuk hubunganmu.

“Cinta pun kadang butuh waktu, dan ada saatnya mungkin harus menunggu. Jangan gegabah dan terburu-buru, tapi biarkanlah waktu yang akan memberi restu. Dan percayalah, Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untukmu,” katanya.

Untukmu yang sampai saat ini tengah berjuang mendapatkan restu dari orang tua dan keluarga dekat, tetap semangat ya! Bersabar dan yakinlah akan sesuatu yang baik di depan mata. Jangan lupa untuk tunjukkan segala kesungguhanmu, agar restu segera didapatkan.

Reporter: Rini Apriliani

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG dan Komitmen Pemerintah dalam Transparansi Anggaran Jaminan Gizi Berkualitas

Oleh: Dhita Karuniawati )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah terus diperkuat dari sisitata kelola anggaran agar pelaksanaannya berjalan transparan, akuntabel, dan tepatsasaran. Pemerintah menegaskan bahwa setiap komponen pembiayaan dalamprogram ini telah diatur secara ketat dan harus mengikuti standar yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa manfaat program benar-benar dirasakanoleh masyarakat, terutama anak-anak sebagai penerima utama program. Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalampelaksanaan MBG menegaskan bahwa anggaran untuk bahan makanan dalamprogram tersebut telah ditentukan secara jelas. Besaran anggaran tersebut beradapada kisaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi makanan, bukan Rp15.000 sepertiyang sempat beredar di masyarakat. Kebijakan ini ditetapkan agar penyedia makanandapat memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang bagi para penerima manfaat tanpamengabaikan prinsip efisiensi anggaran negara. Wakil Kepala Badan Bidang Komunikasi dan Investigasi BGN, Nanik S. Deyang, mengatakan bahwa angka Rp13.000–Rp15.000 yang muncul di beberapa sumber tidakmurni untuk bahan makanan, melainkan sudah termasuk biaya operasional, insentifmitra pelaksana, serta kebutuhan pendukung lain. BGN menegaskan bahwa semua penerima manfaat tetap akan memperoleh makananyang bergizi dan aman dikonsumsi. Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib mengawasi kualitas bahan makanan, memastikan menu sesuai standar gizi yang ditetapkan. Nanik mengatakan Program MBG tetap memperhatikan kelompok prioritas seperti ibuhamil, ibu menyusui, dan balita usia 6–59 bulan. Kualitas makanan menjadi prioritasutama agar tujuan gizi masyarakat tercapai secara optimal. Masyarakat juga diberikan ruang untuk melaporkan dugaan penyimpangan dalam menu MBG. BGN memastikan setiap laporan akan ditindaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku, demi menjaga transparansi dan akuntabilitas program. Dengan penegasan ini, BGN berharap publik memahami bahwa anggaran untuk bahanmakanan MBG tetap sesuai aturan Rp8.000–Rp10.000, dan setiap penerima manfaattetap memperoleh makanan bergizi tanpa mengurangi kualitas. Selain pengaturan standar anggaran, pemerintah juga memperkuat aspek transparansimelalui pengembangan sistem pelaporan keuangan yang terintegrasi. Upaya inidilakukan untuk memastikan bahwa seluruh proses pengelolaan dana dalam program MBG dapat dipantau dan diaudit dengan lebih mudah. Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kementerian Keuangan(Kemenkeu) meluncurkan E-Learning Penyusunan Laporan Keuangan pada SatuanPelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta Aplikasi Pelaporan Keuangan SPPG. Hal itusesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan negaradan peraturan menteri keuangan nomor 168/ PMK.05/ 2015 sttd. PMK 173/PMK.05/2016 dan PMK...
- Advertisement -

Baca berita yang ini