Waduh! Geger Cuitan Netizen yang Ngaku S2 Islam di Harvard, Kenapa?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Jagat maya dihebohkan dengan seorang netizen Twitter pemilik akun @amirah_fadhlina. Cuitan wanita ini mendadak heboh dan jadi trending topic di Twitter.

Rupanya, hal ini bermula dari ungkapan Amirah yang menyebut kehidupan Transgender ada di dalam Al-Quran. Diduga tulisan itu dibuat sebagai bentuk protes dirinya soal pemakaman artis senior, Dorce Gamalama yang dikebumikan sebagai laki-laki.

“Quran kita itu menerima identitas Trans, sebelum situ bicarakan kaidah, dalami teks agamamu dulu,” tulisnya, Kamis 17 Februari 2022.

Tak sampai di situ, Amirah juga membuat gemas warganet karena arogan dan menyebut dirinya kuliah S2 Islam di Harvard, Amerika Serikat. Cuitan Amirah seolah merendahkan umat Muslim lainnya yang tidak berpendidikan lebih tinggi darinya.

“(Saya) Magister Teologi Islam di Harvard University, dengan lebih dari lima tahun training bahasa Arab, dan hampir setahun tinggal dan sekolah di Timur Tengah. Pengetahuanku dari bertahun-tahun belajar, bukan asal ngocah,” ungkapnya.

Sontak, cuitan Amira itu viral di Twitter. Warganet mengaku geram dengan aksi Amirah dan menganggapnya sombong hanya karena mendalami Islam di Harvard.

“Kesannya kayak udah paling pinter.”

“Aneh-aneh aja nih orang.”

“Kalau mau ambil jurusan Islam ya di Cairo, masa Harvard.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Targeting Nutrition: Peran MBG 3B dalam Menurunkan Stunting

Oleh : Ricky Rinaldi Stunting masih menjadi salah satu tantangan utama dalam pembangunan kesehatanmasyarakat di Indonesia. Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisikanak yang mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi juga berdampak padaperkembangan kognitif, kemampuan belajar, hingga produktivitas pada masa dewasa. Karena itu, penanganan stunting membutuhkan pendekatan yang tidakhanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif dan berkelanjutan. Dalam kontekstersebut, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan pendekatan 3B menjadibagian penting dari strategi nasional untuk memperkuat intervensi gizi sejak dini.Stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam jangkapanjang, terutama pada masa awal kehidupan anak. Faktor penyebabnya tidakhanya berkaitan dengan akses terhadap makanan, tetapi juga kualitas polakonsumsi, kondisi sanitasi, serta tingkat edukasi keluarga mengenai pentingnyanutrisi. Oleh karena itu, upaya penurunan stunting membutuhkan kebijakan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunansumber daya manusia harus dimulai dari pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, terutama gizi anak. Peningkatan kualitas generasi muda tidak dapat dipisahkan dariupaya memastikan bahwa anak-anak tumbuh sehat sejak usia dini. Program MBG menjadi salah satu instrumen penting dalam memastikan negara hadir memberikandukungan nyata terhadap kebutuhan gizi masyarakat.Konsep MBG 3B mengacu pada pendekatan yang menitikberatkan pada makananbergizi yang baik, berimbang, dan berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanyamemastikan kecukupan asupan nutrisi, tetapi juga memperhatikan kualitas bahanpangan dan kesinambungan distribusi. Dengan demikian, program tidak hanyamemberikan dampak jangka pendek, tetapi juga mendukung perubahan polakonsumsi yang lebih sehat.Pendekatan baik dalam MBG 3B menekankan pentingnya kualitas makanan yang diberikan. Nutrisi yang dikonsumsi anak harus memenuhi kebutuhan dasarpertumbuhan, termasuk protein, vitamin, mineral, dan zat gizi mikro lainnya. Pemenuhan nutrisi yang tepat akan membantu memperbaiki kondisi kesehatan anakserta meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.Sementara itu, unsur berimbang menggarisbawahi pentingnya komposisi makananyang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Asupan gizi yang hanya berfokus pada satujenis makanan tidak cukup untuk mendukung tumbuh kembang optimal. Anakmemerlukan kombinasi sumber karbohidrat, protein, lemak sehat, serta sayur danbuah agar perkembangan fisik dan mental dapat berjalan secara maksimal.Unsur berkelanjutan dalam MBG 3B menjadi faktor penting yang membedakanprogram ini dari pendekatan bantuan sesaat. Program dirancang agar dapatberlangsung secara konsisten dan terintegrasi dengan sistem pangan lokal. Dengankeberlanjutan, manfaat program tidak berhenti pada satu periode, tetapi dapat terusmendukung upaya penurunan stunting dalam jangka panjang.Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menekankan bahwa intervensi giziharus dilakukan secara tepat sasaran dan berbasis kebutuhan masyarakat. Program MBG tidak hanya berorientasi pada distribusi makanan, tetapi juga padapembentukan pola konsumsi sehat. Dengan pendekatan berbasis data, intervensidapat diarahkan pada kelompok yang paling membutuhkan sehingga dampaknyalebih efektif.MBG...
- Advertisement -

Baca berita yang ini