Viral! Pasangan Pengantin Bedakan Makanan Pernikahan Berdasarkan Jumlah Isi Amlop Kondangan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Menggelar acara pesta pastinya membutuhkan perencanaan yang matang. Mulai dari persiapan makanan, undangan, hingga dekorasi tempat acara digelar pun harus sesuai dengan keinginan.

Tamu yang datang pun biasanya membawa amplop yang berisi uang sebagai kado pernikahan pengantin. Tapi pernahkah Kamu mendengar cerita soal pengantin yang pilih kasih terhadap tamu sesuai jumlah ampop yang diberikan?

Ada lho ternyata! Dilansir dari Daily Star, Minggu 20 September 2020, seorang pasangan yang berasal dari Amerika belakangan dihujat setelah mengunggah menu makanan pernikahanya ke sebuah group Facebook.

Dalam foto yang diunggah, sang pengantin meminta para tamu undangannya untuk memilih makanan yang sesuai dengan jumlah uang yang ada di dalam amplop kondangan.

“oooooo… TENTU SAJA SAYA menginginkan souvenir piala sampanye dari pernikahanmu dengan namamu !!!” tulis keterangan dalam foto tersebut.

Sang pengantin membagi-bagi pemilihan menunya menjadi 4 level, yaitu Loving Gift, Silver Gift, Golden Gift, dan Platinum Gift. Lebih parahnya lagi, untuk para tamu yang vegetarian, mereka harus masuk ke dalam level Platinum Gift.

Di level tersebut, jumlag uang yang perlu diberikan sekitar Rp 14,8 juta sampai Rp 37 juta atau lebih. Wadaw, banyak juga ya…

Unggahan tersebut sontak mendapatkan beragam komentar dari para netizen. Tidak sedikit netizen yang menghujat sang pengantin karena menyetarakan pemilihan menu makanannya sesuai dengan uang kondangan yang diberikat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini