Viral! Artis Cantik Ini Diusir dari Pesawat Gegara Ribut dengan Pramugari

Baca Juga

MATA INDONESIA, HONG KONG – Artis Hong Kong Cecilia Cheung dilaporkan diusir dari pesawat. Tak hanya sendiri, keluarga artis cantik ini juga mendapat perlakuan yang sama ketika hendak pulang ke Hong Kong.

Dilansir dari The Star, Cecilia Cheung berdebat dengan pramugari tepat sebelum lepas landas. Wanita berusia 39 tahun diketahui liburan di Koh Samui, Thailand, bersama adik dan ketiga putranya.

Insiden pengusiran Cecilia Cheung terjadi saat ia dan keluarganya akan kembali dan terbang ke Hong Kong pada 9 Maret.

Pada sebuah video yang beredar, aktris dan juga penyanyi ini terlihat berdiri di tengah lorong kelas bisnis. Ia sedang menggendong putranya, Marcus yang berumur satu tahun dan membujuknya untuk tidur.

Seorang pramugari mendekati Cecilia Cheung dan memintanya untuk duduk. Kata pramugari, ia menghalangi jalan. Terjadi pertengkaran di antara keduanya dan dilaporkan membuat Cecilia diantar keluar dari pesawat.

“Banyak penjaga keamanan dibawa naik. Setelah pertengkaran selama hampir satu jam, Cecilia dan seluruh keluarganya, termasuk dua pembantu, tiga anak, dan saudara lelakinya, akhirnya turun,” ungkap pengirim video yang jadi salah satu penumpang di pesawat tersebut

Penerbangan tersebut pun mengalami keterlambatan. Para penumpang lain pun menjadi tak senang dengan keterlambatan penerbangan ini.

Meski demikian, salah seorang penumpang menjelaskan bahwa Cecilia mungkin tidak bermaksud untuk memblokir lorong. Tetapi, tindakan Cecilia Cheung saat ia menggendong putranya itu membuat dirinya ditegur pramugari.

Cecilia kemudian tidak senang bahwa pramugari memintanya untuk segera duduk. Hal itu lah yang menyebabkan pertengkaran di antara keduanya.

Cecilia dan keluarganya akhirnya dikawal turun dari pesawat oleh penjaga keamanan. Meskipun diusir dari pesawat, Cecilia tampak tenang dan dilaporkan naik penerbangan lain pada hari itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pembangunan Papua Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Adat

Oleh : Loa MuribPembangunan di Papua terus menunjukkan arah yang semakin kuat dalam menghadirkanmanfaat nyata bagi masyarakat adat sebagai bagian utama dari proses transformasi wilayah timurIndonesia tersebut. Berbagai program pembangunan yang berjalan saat ini tidak hanya berfokuspada percepatan infrastruktur, tetapi juga menempatkan manusia Papua, khususnya orang asliPapua, sebagai pusat perhatian utama. Pendekatan ini menjadi penting karena keberhasilanpembangunan tidak lagi sekadar diukur dari banyaknya proyek fisik yang dibangun, melainkandari sejauh mana masyarakat merasakan perubahan dalam kualitas hidup, peningkatankesejahteraan, dan terbukanya akses terhadap peluang ekonomi yang lebih luas.Dalam konteks tersebut, pemerintah melalui berbagai kebijakan percepatan pembangunan di Tanah Papua menekankan pentingnya pendekatan dialogis dan partisipatif. Pembangunan di wilayah seperti Asmat, Mappi, Merauke, dan Boven Digoel yang menjadi bagian dari ProyekStrategis Nasional ketahanan pangan dan energi, menunjukkan bahwa pembangunan tidak dapatdilepaskan dari komunikasi yang berkesinambungan dengan masyarakat adat. Pendekatan dialog yang dilakukan secara terus-menerus menjadi jembatan penting dalam membangun kepercayaanserta memastikan bahwa setiap kebijakan yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhanmasyarakat di tingkat akar rumput.Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Paulus Waterpauw, menegaskan bahwa pembangunan harus menempatkan masyarakat Papua sebagaisubjek utama, bukan sekadar objek pembangunan. Ia menekankan bahwa proses komunikasiyang dilakukan secara berulang dan dengan pendekatan yang humanis akan membuka ruangpemahaman yang lebih luas antara pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, masyarakat pada dasarnya terbuka terhadap pembangunan selama dilakukan dengan menghormati nilai sosial dan budaya yang hidup dalam masyarakat adat. Pendekatan ini sekaligus menjadi upaya untukmemastikan bahwa pembangunan tidak dilakukan secara sepihak, melainkan melalui keterlibatanaktif masyarakat yang terdampak langsung.Lebih jauh, pembangunan di Papua juga dipandang harus memberikan penjelasan yang utuhkepada masyarakat mengenai manfaat jangka panjang yang dapat diperoleh. Hal ini mencakuppeluang ekonomi, peningkatan akses layanan dasar, hingga dampak sosial yang lebih luas. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya berhenti pada tataran fisik, tetapi juga menyentuhaspek pemberdayaan yang memungkinkan masyarakat adat memiliki kemampuan lebih besardalam mengelola potensi daerahnya sendiri. Dalam kerangka ini, kemiskinan ekstrem yang masih menjadi tantangan di Papua dipandang sebagai persoalan mendasar yang harusdiselesaikan secara komprehensif melalui pembangunan yang inklusif.Paulus Waterpauw juga menyoroti bahwa berbagai persoalan sosial yang muncul di...
- Advertisement -

Baca berita yang ini