Keji! Gadis Ini Tersenyum di Pengadilan Setelah Tikam Ibu Kandung

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya video tahanan wanita bernama Isabella Guzman yang melemparkan senyuman di pengadilan setelah diketahui telah menikam ibu kandungnya sebanyak 151 kali.

Diketahui, Isabella menikam ibunya Yun Min Hoy di bagian wajah dan leher pada 2013 lalu saat usianya masih 18 tahun. Menurut kabar, gadis kelahiran 1995 di Colorado, Amerika Serikat ini memang kerap bertengkar dengan sang ibu, setelah ibunya menikah lagi dengan seorang pria bernama Ryan Hoy.

Dikutip dari AP, Isabella berencana menghabisi sang ibunda setelah sebelumnya mengirimkan pesan lewat email untuk ibunya bertuliskan ‘Kau akan menebusnya’. Besoknya, Isabella diketahui meluncur ke kediaman sang ibu di Jalan South Lima dan menikamnya di kamar mandi.

Isabella diringkus kepolisian dalam 16 jam setelah tragedi pembunuhan itu terjadi. Saat itu, Isabella baru berusia 18 tahun, dan kini usianya sudah menginjak 25 tahun.

Saat di sidang pengadilannya, nampak di video sosok Isabella yang berparas cantik mengarahkan diri ke kamera dan tersenyum sinis. Seolah tak menyesali perbuatannya kepada sang ibu.

Dikutip dari sumber, Isabella ternyata mengidap gangguan jiwa, schizophrenia. Hal itu membuat Isabella lolos dari jeratan hukum dan dikirim ke Rumah Sakit Pemerintah di Pueblo untuk menjalani perawatan kejiwaan.

Kini, Isabella disebut-sebut sebagai salah satu perempuan berdarah dingin di dunia karena menikam ibu kandungnya sendiri tanpa rasa bersalah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini