Ini Deretan Tren Ramadan Terbaru yang Muncul di Tengah Covid-19

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dalam beberapa bulan terakhir ini, dunia digemparkan dengan pandemi COVID-19. Untuk menekan angka penyebaran wabah tersebut, pemerintah akhirnya mengambil sejumlah langkah tegas, mulai dari social distancing dan himbauan agar masyarakat tetap #DiRumahAja, hingga pelarangan mudik dan perubahan tanggal cuti bersama, serta yang terbaru, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal ini tentunya berdampak bagi masyarakat, terutama sehubungan dengan pelaksanaan bulan Ramadhan dan persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Perusahaan media intelligence Isentia mengulik perbincangan media sosial terkait implementasi langkah pemerintah dan dampaknya terhadap perilaku masyarakat. Yang pertama adalah langkah pemerintah untuk menetapkan larangan mudik pada tanggal 24 April, yang hingga berita ini diturunkan dibicarakan netizen Indonesia sebanyak 14,085 kali di media sosial.

“Video call bersama keluarga dan kerabat menjadi solusi yang diambil masyarakat untuk mengobat rasa rindu karena tidak bisa mudik. Menanggapi perubahan tren ini, kami menemukan beberapa perusahaan telekomunikasi merilis paket kuota murah bagi penggunanya agar tetap dapat menjalin silaturahmi secara online,” jelas Rendy Ezra, Insights Manager dari Isentia Indonesia, dikutip dari keterangan pers tertulis, Kamis, 7 Mei 2020.

Selain itu, PSBB dan #DiRumahAja juga ramai dalam dibicarakan netizen, hingga muncul dalam 77,074 postingan medsos dalam seminggu terakhir. Sebagai dampak pemberlakuan langkah ini, sejumlah tempat-tempat umum ditutup dan beberapa restoran menetapkan untuk tidak makan ditempat dan hanya boleh untuk delivery maupun take away.
Meski di bulan puasa, Pemerintah menetapkan untuk mengurangi kegiatan di luar rumah dan menghimbau masyarakat untuk menggantikannya dengan di rumah saja, termasuk kegiatan ngabuburit, tarawih, sholat berjamaah maupun acara buka bersama. Perubahan ini juga memunculkan tren baru, yaitu berbuka puasa dengan memesan makanan melalui aplikasi untuk diantarkan ke rumah. Lebih lanjut, beberapa aplikasi pesan antar makanan juga memfasilitasi masyarakat dengan promo diskon yang besar.

Di samping dua hal tersebut, perubahan tanggal cuti bersama juga menjadi perhatian bagi masyarakat. Semula cuti bersama yang ditetapkan pada tanggal 22 Mei dan 26 hingga 29 Mei, diganti menjadi tanggal 28 hingga 31 Desember. Perubahan tanggal cuti bersama ini membuat masyarakat yang telah membeli tiket untuk bepergian mendadak mengganti atau me-reschedule tanggal keberangkatan dan kembali.

Sejumlah maskapai penerbangan tidak menerapkan aturan penggantian tanggal dan membuat masyarakat yang telah membeli sedari jauh-jauh hari harus membeli tiket yang baru. Sementara tiket kereta api lebih mudah dan cepat untuk dikembalikan menjadi uang kepada masyarakat yang telah membeli.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG dan Pentingnya Kolaborasi Pentahelix untuk Desa

Oleh : Nancy Dora Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjadi salah satu agenda strategis pemerintahdalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang sehat, produktif, dan berkualitas. Program ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnyaanak-anak dan kelompok rentan, tetapi juga memiliki dampak yang jauh lebih luas terhadappembangunan ekonomi desa, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan kelembagaan lokal. Karena itu, keberhasilan MBG tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan melalui pendekatanpentahelix.Konsep pentahelix menempatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakatsebagai unsur utama yang saling bersinergi dalam menyelesaikan persoalan pembangunan. Dalam konteks MBG, pendekatan tersebut menjadi sangat relevan mengingat cakupan program yang besar, melibatkan jutaan penerima manfaat dan ribuan desa di seluruh Indonesia. Pelaksanaan yang efektif memerlukan dukungan lintas sektor agar manfaat yang dihasilkan dapatdirasakan secara merata.Dukungan sepuluh asosiasi desa terhadap program MBG dan Koperasi Desa Merah Putihmenunjukkan bahwa pemerintah desa memandang program tersebut sebagai peluang besar bagipeningkatan kesejahteraan masyarakat. Keterlibatan desa bukan hanya sebagai lokasipelaksanaan program, melainkan sebagai pelaku utama yang menjalankan rantai ekonomi di tingkat lokal. Desa dapat menjadi produsen bahan pangan, pengelola distribusi, hingga penyediatenaga kerja yang dibutuhkan dalam operasional program.Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyampaikan bahwa MBG berpotensi melahirkan berbagai desa tematik berdasarkan komoditas unggulan lokal seperti desajagung, desa melon, desa beras, desa ikan nila, hingga sentra peternakan ayam petelur. Menurutnya, keterlibatan Badan Usaha Milik Desa sebagai mitra Badan Gizi Nasional akanmemperkuat ekonomi lokal dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di pedesaan.Konsep desa tematik tersebut merupakan langkah strategis dalam mendorong kemandirianekonomi desa. Selama ini, banyak desa hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah dengannilai tambah yang terbatas. Melalui MBG, komoditas lokal memperoleh pasar yang jelas danberkelanjutan sehingga petani, peternak, dan pelaku usaha desa memperoleh kepastian usaha. Kondisi tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar luar sekaligus meningkatkanpendapatan masyarakat.Selain itu, kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di desa juga memberikan dampak sosialyang signifikan. Setiap unit pelayanan diperkirakan mampu menyerap puluhan tenaga kerjalokal. Kesempatan kerja tersebut sangat penting dalam mengurangi pengangguran di pedesaan, terutama bagi generasi muda yang selama ini cenderung berpindah ke kota karena terbatasnyalapangan pekerjaan di daerah asal.Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menilai bahwa program MBG memiliki dampak pengganda yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, dana yang mengalir ke daerah akan mendorong pemerataan ekonomi dan menciptakan aktivitasekonomi baru di tingkat akar rumput. Ia juga optimistis bahwa pelaksanaan program akansemakin baik dalam enam bulan hingga satu tahun mendatang seiring dengan berbagaipenyempurnaan yang dilakukan pemerintah.Pandangan tersebut menunjukkan bahwa MBG bukan semata program bantuan sosial, melainkaninstrumen pembangunan ekonomi yang memiliki efek berantai. Ketika anggaran pemerintahmasuk ke desa melalui pembelian bahan pangan, pembayaran tenaga kerja, dan operasionallayanan gizi, maka daya beli masyarakat meningkat. Aktivitas ekonomi desa pun bergerak lebihdinamis.Namun demikian, pelaksanaan program berskala besar tentu tidak terlepas dari berbagaitantangan. Distribusi, kesiapan sumber daya manusia, kualitas pelayanan, pengawasan, danefisiensi anggaran menjadi sejumlah aspek yang harus terus diperbaiki. Kritik dan masukan yang konstruktif perlu dipandang sebagai bagian dari proses penyempurnaan kebijakan, bukan sebagaialasan untuk menghentikan program yang memiliki tujuan mulia.Di sinilah pentingnya kolaborasi pentahelix. Pemerintah bertugas menyusun regulasi danmemastikan keberlanjutan program. Akademisi dapat memberikan kajian dan evaluasi berbasisdata. Dunia usaha mendukung rantai pasok dan investasi. Media berperan menyebarkaninformasi yang objektif dan edukatif. Sementara masyarakat menjadi pelaksana sekaliguspengawas di tingkat akar rumput.Media massa memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas informasi mengenai MBG. Penyampaian informasi yang berimbang dapat mencegah munculnya disinformasi danmemperkuat kepercayaan publik terhadap program. Di sisi lain, media juga dapat menjadisaluran aspirasi masyarakat sehingga berbagai persoalan di lapangan dapat segera diketahui dandiperbaiki.Ke depan, keberhasilan MBG akan sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh elemen bangsadalam menjaga semangat gotong royong dan kolaborasi. Desa harus ditempatkan sebagai pusatpembangunan yang mampu menghasilkan pangan, menciptakan lapangan kerja, danmeningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan pentahelix menjadi fondasi penting agar program tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi benar-benar menghadirkan manfaatnyata.MBG pada akhirnya merupakan investasi jangka panjang bagi Indonesia. Program inimembangun generasi yang sehat sekaligus memperkuat fondasi ekonomi desa. Dengandukungan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini