Yuk, Kenali Potensi KIPI Vaksin Covid-19 Moderna dan Cara Mengatasinya

Baca Juga

Vaksin Covid-19 Moderna juga akan disuntikkan kepada masyarakat umum setelah tenaga kesehatan. Sekitar 5.102.300 dosis vaksin tersebut telah disediakan untuk vaksinasi Covid-19 di 34 provinsi.

Melihat kesiapan vaksin tersebut, sebaiknya masyarakat juga perlu mengetahui apa saja potensi Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) dari vaksin Moderna. Ketua Komnas KIPI Hindra Irawan Satari mengemukakan bahwa efek nyeri menjadi salah satu imbas yang bisa dirasakan oleh penerima vaksin tersebut. Namun secara umum, belum ada KIPI yang berat atau serius yang disebabkan oleh vaksin tersebut.

“Tidak ada (KIPI serius),” kata Hindra, Sabtu 21 Agustus 2021.

Meski demikian, ia tetap menekankan bahwa ada beberapa gejala yang mungkin terjadi seperti nyeri, kemerahan dan bengkak di lokasi suntikan. Selain itu Hindra juga mengemukakan bahwa KIPI serius meliputi beberapa efek seperti miokarditis dan pericarditis (radang otot jantung). Namun hingga saat ini belum ada laporan KIPI serius pada vaksin Moderna ke pihak Komnas.

“Namun sampai saat ini belum ada laporan KIPI serius moderna yang diterima Komnas, semua bersifat non-serius, yang ringan sampai moderat. Mudah-mudahan demikian selanjutnya,” kata Hindra.

Sementara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga sudah mengeluarkan izin penggunaan darurat untuk vaksin Covid-19 Moderna pada 2 Juni 2021 lalu. Adapun penerbitan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) telah melewati pengkajian Komite Nasional Pneilai vaksin Covid-19, ITAGI, dan BPOM.

Maka, menurut Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Siti Nadia Tarmizi menegaskan bahwa vaksin Moderna bisa digunakan bagi mereka yang sudah berusia di atas 18 tahun.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini