Waspada, Donasi untuk Kemanusiaan Banyak Digunakan Teroris

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat telah menyerahkan sebanyak 1.300 laporan transaksi mencurigakan yang terkait dengan pendanaan teroris. Kebanyakan berkedok penggalangan dana kemanusiaan.

Kepala PPATK Dian Ediana Rae bahkan menegaskan banyak penggalangan dana seperti yang tidak transparan.

“Bantuan kemanusiaan banyak yang tidak transparan padahal perlu untuk jelas audit dan monitoringnya,” ujar Dian kepada Mata Indonesia News, Kamis 11 Februari 2021.

Fenomena aliran dana berkedok kemanusiaan tidak lepas dari kekalahan ISIS pada tahun 2017 di Suriah. Momentum ini menjadi awal pergeseran penggunaan dana teroris dari dalam negeri.

Bahkan peneliti dari lembaga Certified Counter Terrorism Practicioner, Rakyan Adibrata pernah mengemukakan temuan ada lembaga lokal yang memiliki misi untuk membiayai para jihadis Indonesia pergi ke Suriah.

Menurut Rakyan, modus itu sering digunakan untuk membiayai perjalanan Warga Negara Indonesia (WNI) ke Suriah pada 2014-2015. Saat itu, banyak WNI menuju Suriah untuk bergabung ke ISIS.

Salah satu kasus yang pernah mengemuka adalah kasus yang melibatkan Infaq Dakwah Center (IDC). Lembaga dana kemanusiaan ini disinyalir memberikan bantuan kepada pergerakan teroris sehingga tidak menyalurkan dana secara penuh kepada penerima bantuan.

Saat ini modus yang sama diduga terjadi pada rekening ormas Front Pembela Islam (FPI). PPATK mendeteksi ada arus lalu lintas keuangan lintas negara pada ormas tersebut. Alhasil PPATK memblokir 92 rekening milik FPI sebagai wujud pendeteksian dini.

Maka melihat kondisi ini, eks Direktur Pencegahan Kedeputian Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT RI, Irjen Pol (Purn) Ir Hamli menegaskan kepada masyarakat agar berhati-hati dalam memberikan sumbangan kepada suatu lembaga atau organisasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini