Wahai Buruh! Ini Sisi Positif Omnibus Law yang Perlu Kalian Tahu

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Rancangan Undang-undang (RUU) Cipta kerja atau Omnibus Law Cipta Kerja masih dalam proses penggodokan di DPR. Meski tengah diperdebatkan banyak kalangan, secara umum draft RUU ini bisa memberikan dampak positif bagi perekonomian tanah air dan nasib kaum buruh atau para pekerja pada khususnya.

Pakar Komunikasi Politik Iman Soleh, M.Si pun sependapat. Ia mengatakan, draft Omnibus Law ini bertujuan untuk memperbaiki iklim investasi dan kesejahteraan para pekerja. Terutama soal sistem pengupahan yang selama ini dianggap kontroversial akan menjadi jelas dalam RUU ini.

“Para pengusaha akan mendapat kepastian dan jaminan dalam mengembangkan usaha. Sedangkan bagi pekerja, sistem pengupahan yang berubah dari sistem harian menjadi jam kerja, Justru membawa dampak agar pekerja semakin terkonsentrasi pada pekerjaan dan menghasilkan prestasi kerja yang optimal yang berujung pada produk usaha optimal,” ujarnya kepada Mata Indonesia, Minggu 29 Maret 2020.

Selain itu, sisi positif lainnya yang bisa didapatkan para pekerja dari Omnibus Law adalah semakin luasnya prospek lapangan kerja. Di mana akan muncul perusahaan-perusahaan modal asing baru dan tentunya membutuhkan tenaga kerja lokal.

Iman juga mengatakan, rencana pemerintah mengeluarkan Omnibus Law sebagai bentuk antisipasi pada atas sejumlah gejolak ekonomi pada tahun-tahun mendatang yang berat dan penuh tantangan.

“Ini salah satu alasan pemerintah berinisiatif mengajukan RUU melalui proses omnibus law, omnibus law cipta kerja dengan menghapus sekitar 79 UU dan mengganti sekitar 1.200 pasal yang terkait dunia usaha, otonomi daerah dan ketenagakerjaan,” kata Wakil Dekan Fisip Universitas Wiralodra Indramayu tersebut.

Selain itu, sisi positif Omnibus Law lainnya adalah soal kemudahan dan penyederhanaan aturan investasi dalam negeri. Hal ini dnilai bisa menjadi katalis bagi pengusaha asing untuk masuk berinvestasi di Indonesia.

Kata Iman, selama ini banyak investor asing yang menganggap iklim usaha di Indonesia kurang begitu menguntungkan karena sangat birokratis. Baik dari segi perizinan dan operasionalisasi usaha. Terlalu banyak undang-undang yang perlu dipakai atau tumpang tindih. Ini yang membuat para investor enggan membuka dan menanamkan investasinya di Indonesia dan berakibat pertumbuhan ekonomi menjadi kurang menyakinkan

“Draft UU Cipta Kerja justru menjadi terobosan baru dalam sistem perundang-undangan Indonesia. Di mana beberapa undang-undang yang tumpang-tindih disatukan dalam satu paket regulasi melalui proses omnibus law,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini