Vladimir Putin Tuding Sanksi Terhadap Rusia Sebabkan Pasokan Pangan Dunia Terganggu

Baca Juga

MATA INDONESIA, MOSKOW – Usai melakukan pertemuan dengan Presiden Jokowi, Vladimir Putin melakukan percakapan telepon dengan Perdana Menteri (PM) India, Narendra Modi soal terganggunya pasokan pangan dunia.

Dalam percakapan mereka Jumat 1 Juli 2022, Putin menuding penerapan sanksi terhadap Rusia adalah penyebab masalah tersebut.

“Putin memperhatikan kesalahan sistemik yang dibuat sejumlah negara, yang menyebabkan terganggunya perdagangan bebas produk makanan dan memicu kenaikan harga yang signifikan. Sanksi yang melanggar hukum terhadap Rusia telah memperburuk situasi yang sudah sulit,” demikian pernyataan pers Kremlin yang dikutip, Sabtu 2 Juli 2022.

Putin, seperti dilansir Tass menegaskan, Rusia telah dan tetap menjadi produsen serta pemasok biji-bijian, pupuk dan energi yang andal bagi India.

Kedua pemimpin tersebut sepakat melanjutkan kontak pribadi serta interaksi di tingkat lain.

Saat bertemu Jokowi, Putin menjamin keamanan pasokan pangan, pupuk dan jalur laut Ukraina.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini