Veteran Myanmar Mempertimbangkan untuk Kembali Perang

Baca Juga

MATA INDONESIA, NAYPYIDAW – Mantan tentara Myanmar, Isaac yang kini hidup di sebuah lembah berkabut di perbatasan Myanmar-Thailand mempertimbangkan untuk kembali berperang.

Isaac yang kini berusia 49 tahun itu merupakan mantan pejuang dari Partai Progresif Nasional Karenni (KNPP) dan telah menghabiskan bertahun-tahun dengan memerangi pasukan pemerintah di hutan timur sebelum memutuskan untuk menetap di Thailand Utara.

Selama beberapa dekade, tentara seperti Isaac memperjuangkan otonomi yang lebih besar untuk kelompok minoritas. Sekarang, kekacauan yang terjadi Myanmar, membuat hatinya terketuk untuk bergabung dengan para penentang kudeta, memerangi pemerintahan junta militer yang kini tengah berkuasa.

“Jika semua etnis bersenjata bersatu, maka mereka bisa menang,” kata Isaac, melansir Reuters, Rabu, 31 Maret 2021.

Kelompok Advokasi Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik atau Assistance Association for Political Prisoners (AAPP) melaporkan, lebih dari 500 warga sipil Myanmar meninggal dunia di tangan pasukan keamanan hanya dalam kurun waktu dua bulan!

Hingga saat ini, di tengah ratusan korban berjatuhan, kekerasan dari aparat keamanan Myanmar masih terus meningkat, menyebabkan kelompok etnis pemberontak ‘turun gunung’ dan bergabung dengan massa anti-kudeta.

Di negara bagian Karen tenggara, salah satu kelompok terkuat –Persatuan Nasional Karen (KNU), mengatakan akan mengirim bantuan berupa pejuang untuk melindungi para pengunjuk rasa. Ini merupakan respons KNU atas permohonan bantuan dari massa anti-kudeta di Myanmar.

Alhasil, KNU pun melakukan serangan terhadap pasukan Myanmar. Sementara di utara Myanmar, Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA) telah melancarkan serangan serupa terhadap pos-pos militer.

“Ribuan tentara Myanmar sedang menuju wilayah kami dari berbagai arah. Kami tidak punya pilihan kecuali menghadapi ancaman dari pemerintah junta militer yang tidak sah demi mempertahankan wilayah kami,” demikian isi pernyataan KNU.

Pada Selasa (30/3), tiga pasukan gerilya lainnya, termasuk Tentara Arakan di negara bagian Rakhine barat, berjanji untuk bergabung dengan apa yang mereka sebut sebagai revolusi musim semi jika pembunuhan yang dilakukan tentara Myanmar tidak berhenti.

Akhir pekan lalu militer Myanmar menggempur sarang milisi Karen di kawasan pedalaman sebelah timur. Serangan udara itu membuat sekitar 3 ribu penduduk di wilayah pedesaan setempat kabur ke dalam hutan menuju perbatasan Thailand untuk menyelamatkan diri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Papua Jadi Prioritas Pembangunan Nasional untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan

Oleh: Yohanes Kogoya*Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama dalam mewujudkan kesejahteraanmasyarakat sekaligus memperkuat kedaulatan bangsa. Dalam konteks pembangunan nasionalsaat ini, Papua menempati posisi yang semakin strategis, bukan hanya sebagai wilayah terdepan Indonesia di kawasan Pasifik, tetapi juga sebagai daerah yang memiliki potensisumber daya alam melimpah untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Berbagaikebijakan dan program yang dijalankan pemerintah menunjukkan bahwa Papua kini menjadibagian penting dalam agenda pembangunan Indonesia yang berorientasi pada pemerataan dan keberlanjutan.Komitmen pemerintah untuk mempercepat pembangunan Papua mendapat penegasan langsung dari Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming. Menurutnya, paradigma pembangunan nasional saat ini telah bergeser dari yang sebelumnya berorientasi pada Pulau Jawa menjadi pembangunan yang berpusat pada seluruh wilayah Indonesia. Papua pun ditetapkan sebagaisalah satu prioritas pembangunan nasional melalui berbagai program strategis, mulai daripembangunan infrastruktur, rumah sakit, Sekolah Rakyat, pasar, program Makan BergiziGratis, hingga pengembangan kawasan ekonomi dan konektivitas melalui Trans...
- Advertisement -

Baca berita yang ini