Vaksinasi Covid-19 Lansia di Aceh Masih Sangat Rendah

Baca Juga

MATA INDONESIA, BANDA ACEH – Cakupan vaksinasi Covid-19 untuk lansia di Aceh masih sangat rendah jauh di bawah angka nasional karena sebagian besar masyarakatnya terutama lansia meragukan keamanan vaksin.

Hal itu diungkapkan Wakil Sekretaris Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, dr. Masry, di Banda Aceh, Kamis 28 Oktober 2021.

“Padahal menurut penelitian vaksin aman. Di Aceh tidak ada kejadian ikutan paska imunisasi (KIPI) yang fatal. Yang penting adalah, saat skrining masyarakat jujur terhadap kondisi kesehatannya,” ujar Masry.

Data IDI Aceh mengungkapkan vaksin dosis pertama untuk lansia di Aceh baru mencapai 11,13 persen dan yang mendapat dosis kedua lebih sedikit lagi hanya 5 persen.

Paling rendah vaksinasi di Aceh Utara dan Aceh Jaya yaitu baru sebesar 4 persen. Sementara di Banda Aceh, perlu dinaikkan sebesar 13,3 persen sehingga harus menyuntikkan 104 orang satu hari.

Di Banda Aceh 80 persen kematian akibat Covid-19 adalah warga berusia 50 tahun atau lebih dan sulit dikendalikan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini