Trending di Twitter, Penyelewengan Dana Aksi Cepat Tanggap Bikin Murka Umat

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Publik tengah dihebohkan dengan dugaan penyelewengan dana yang dilakukan yayasan sosial Aksi Cepat Tanggap (ACT). Organisasi itu diketahui melakukan korupsi dana umat yang seharusnya diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Hingga hari ini, warganet ramai menyerukan tagar #JanganPercayaACT di sosial media hingga menjadi trending topic di Twitter. Mereka ngamuk lantaran organisasi yang digadang-gadang gercep melakukan pengumpulan dana malah menyelewengkan uang tersebut.

“ACT = Aksi Cepat Tanggap, ACT = Aksi Cepat Transfer.”

“Klo benar sungguh terlalu! Hidup mewah dari penyelewengan donasi.”

“Pantes sering bgt dapet email dr act pdhal udah gak sedekah disini skitar 4thn lalu rupanya buat dana sedekah para pengurus aksi cepat tanggap.”

Begitu ungkapan warganet mengetahui dugaan penyelewangan dana yang dilakukan ACT.

Sementara itu, gaji para petinggi ACT juga terbongkar dan menjadi sorotan. Usut punya usut, mereka mendapat sedikitnya 80-250 juta Rupiah per bulan. Hal itu diungkap oleh pemilik akun Twitter, @na_dirs.

“Gaji sebulan 250 juta. Presiden? Bukan, Menteri? Bukan, Ketum PBNU atau PP Muhammadiyah? Bukan,” cuitnya.

Di sisi lain, sejauh ini belum ada tanggapan dari pihak ACT terkait dengan beredarnya kabar miring soal yayasan tersebut. Namun, warganet sudah kehilangan kepercayaan pada organisasi tersebut dan meminta pihak berwajib untuk segera mengatasi isu ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini