Tingkat Penularan Covid-19 Tinggi, Luhut: Waspadai WNA dari AS dan Turki

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Penerbangan internasional hingga kini masih terus jadi perhatian pemerintah untuk mencegah masuknya varian baru virus covid-19  dari luar negeri.

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan ada beberapa negara yang menjadi perhatian Indonesia, di antaranya Amerika Serikat dan Turki, yang dinilai masuk level 4.

“Kedatangan orang asing kami juga lakukan pengetatan untuk orang-orang dari daerah yang punya [penularan] kecenderungan tinggi atau level 4 istilah kita. Terdapat berapa negara seperti beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Turki itu cukup tinggi, namun proses karantina 8 hari tetap kita lakukan itu,” kata Luhut dalam konpers virtual, Senin 27 September 2021.

Berbeda dengan AS dan Turki, tingkat penularan Covid-19 di Arab Saudi cukup rendah. Sehingga mereka yang berasal dari sana tidak akan diperiksa di bandara dan akan langsung dibawa ke lokasi karantina. ”Dari Saudi Arabia juga tingkat di sana rendah, di jalan kena, kita langsung bawa karantina. Jadi tidak diperiksa di airport, langsung dikarantina. Penerbangan dari luar negeri akan diatur kedatangannya supaya tidak ada penumpukan,” katanya.

Luhut mengungkapkan tingkat tracing di Indonesia. Ia mengatakan tingkat tracing meningkat cukup baik di Jawa dan Bali. ”Ini juga penting. Tracing meningkat, [sebelumnya] hanya 26% di kabupaten/kota di Jawa-Bali minggu lalu, [sekarang] 36%. Jadi 10% membaik dengan tingkat tracing terbatas atau di bawah 5 kontak erat per konfirmasi,” katanya.

Luhut memuji kinerja Dinas Kesehatan masing-masing daerah, TNI, dan Polri yang sudah bekerja bahu membahu melakukan testing, tracing, dan pencegahan mobilitas.

“Kuncinya pengecekan time to time dan detail ke bawah. Tidak bisa diberikan perintah langkah [kemudian] menunggu hasilnya, enggak bisa. Kita harus turun ke bawah melihat pelaksanaannya,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini