Survei PolMark: 9 Partai Lolos ke Parlemen

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Ada perbedaan dalam survei terbaru yang dilakukan dan dirilis PolMark Indonesia. Jika sebelumnya banyak survei menyebut hanya lima parpol saja yang lolos ke parlemen, yakni PDIP, PKB, Gerindra, Golkar, dan Demokrat, justru PolMark menyebut ada 9 partai.

Sembilan parpol dalam survei tersebut yang lolos ke parlemen adalah PKB (11,5 persen), Gerindra (14,1 persen), PDI Perjuangan (28,6 persen), Golkar (13,3 persen), NasDem (5,6 persen), PKS (4,6 persen), PPP (4,5 persen), PAN (5,9 persen), dan Demokrat (6,9 persen).

Sementara partai lainnya yang tak lolos, elektabilitasnya masih di bawah 2 persen, yaitu Partai Garuda (0,1 persen), Berkarya (0,4 persen), Perindo (2 persen), PSI (0,6 persen), Hanura (1,1 persen), PBB (0,5 persen), dan PKPI (0,2 persen).

“Masih ada 7 dapil yang belum kami survei,” kata Founder dan CEO PolMark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah di Surabaya, Selasa 5 Maret 2019.

Survei ini dilakukan pada periode 2018 Oktober 2018 lalu hingga Februari 2019 di 73 dapil seluruh Indonesia. Mengenai 7 dapil lainnya yang belum disurvei, Eep tak menjelaskannya secara detail.

73 dapil survei itu terbagi di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusra, Maluku, dan Papua.

“Ya inilah hasilnya yang kami peroleh,” ujar Eep.

Ada 72 Dapil di Jawa, Sumatra, Kalimantan dan beberapa pulau lainnya yang menjadi objek survei dengan jumlah 440 responden.

Kemudian ada satu Dapil di Jawa Barat, yaitu Dapil III dengan 880 responden yang turut disurvei pada tahap berikutnya. Sehingga total ada 73 Dapil dengan jumlah total responden 32.560 orang.

Untuk margin of error dari survei menggunakan metode multistage random sampling ini, di 72 Dapil (kecuali Dapil III Jabar), mencapai sekitar 4,8 persen. Sedang di Dapil III Jabar, mencapai sekitar 3,4 persen.

Berita Terbaru

Dari Laboratorium ke Industri: Momentum Hilirisasi Riset Indonesia

Oleh: Juniansyah Putra)*Kemajuan sebuah bangsa pada era modern ditentukan oleh kemampuannyamengubah pengetahuan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagimasyarakat. Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya manusia yang terus berkembang, jaringan perguruan tinggi yang semakin kuat, serta dukunganpemerintah terhadap penguatan riset dan teknologi. Dalam konteks tersebut, hilirisasi riset menjadi langkah strategis untuk mempercepat transformasi Indonesia menuju negara maju berbasis inovasi.Pemerintah menempatkan pengembangan riset dan inovasi sebagai salah satufondasi penting pembangunan nasional. Berbagai kebijakan diarahkan untukmemastikan hasil penelitian tidak hanya menjadi kontribusi akademik, tetapi juga dapat berkembang menjadi teknologi, produk, dan layanan yang meningkatkanproduktivitas, memperkuat industri nasional, serta membuka peluang ekonomi baru. Langkah ini menunjukkan komitmen kuat negara dalam membangun ekosisteminovasi yang berdaya saing global.Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwaperguruan tinggi memiliki peran sentral sebagai motor penggerak hilirisasi risetnasional. Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sumber lahirnya teknologidan solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia usaha. Melalui kolaborasi antarkampus dan kemitraan dengan berbagai sektor, potensi risetIndonesia dapat dimanfaatkan secara lebih luas dan lebih cepat.Brian menjelaskan bahwa budaya inovasi di lingkungan perguruan tinggi terusdiperkuat agar para peneliti terdorong menghasilkan karya yang memiliki nilaitambah tinggi. Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma penting dalampembangunan nasional, yaitu menjadikan penelitian sebagai penggerakpertumbuhan ekonomi sekaligus sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Publikasi ilmiah tetap menjadi indikator kualitas akademik, namun keberhasilan risetjuga diukur dari sejauh mana inovasi tersebut memberi dampak nyata bagikehidupan masyarakat.Untuk mendukung transformasi tersebut, pemerintah bersama perguruan tinggi terusmemperkuat ekosistem inovasi melalui pengembangan inkubator bisnis, pusatinovasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta kemudahan kemitraan dengandunia usaha. Langkah-langkah ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagilahirnya perusahaan rintisan berbasis teknologi dan pengembangan industri nasionalyang lebih modern.Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif...
- Advertisement -

Baca berita yang ini