Sidang MK Jadi Arena Tempur Alumni HMI dari Tiga Kubu

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Ada yang unik dala sidang sengketa Pilpres 2019 atau Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) yang masih berlangsung hingga hari ini, Rabu 19 Juni 2019.

Sidang sengketa Pilpres 2019 itu menjadi arena tempur dan adu kekuatan fakta hukum antara alumni Himpunan Mahasiswa Islam dari tiga kubu yang bersidang, yakni dari Prabowo-Sandiaga, Jokowi-Ma’ruf dan Komisi Pemilihan Umum.

Alumni HMI yang bertarung di sidang MK saat ini dari pihak Prabowo-Sandiaga adalah Bambang Widjojanto, sedangkan dari Jokowi-Ma’ruf adalah Yusril Ihza Mahendra, dan dari KPU adalah Viryan Aziz.

Ketua tim hukum Prabowo-Sandiaga, yakni Bambang Widjojanto adalah alumni HMI yang berasal dari Universitas Indonesia (UI), Depok.

Bambang punya nama besar setelah pernah menjadi pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS) bersama alumni HMI lainnya, yakni almarhum Munir. Ia juga pernah memimpin Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), menjadi pendiri ICW dan Wakil Ketua KPK.

Sementara kuasa hukum Jokowi-Ma’ruf, yakni Prof Yusril Ihza Mahendra adalah alumni HMI yang sama-sama berasal dari UI, seperti Bambang.

Yusril terkenal sejak lama sejak era Soeharto, setelah ia ditugaskan sebagai penulis pidato presiden. Ia juga adalah mantan Menteri Hukum dan Perundang-undangan, Menteri Kehakiman dan HAM serta Menteri Sekretaris Negara. Yusril saat ini adalah Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) dan Guru Besar Universitas Indonesia.

Terakhir, Viryan Azis baru dikenal secara nasional setelah dirinya menjadi salah satu Anggota KPU RI. Namun, Viryan sudah punya nama besar sebagai salah satu putera terbaik di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak.

Viryan adalah alumni HMI yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum HMI Cabang Pontianak. Saat ini statusnya masih Ketua Umum Korp Alumni HMI (KAHMI) Kota Pontianak.

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini