Setelah Tokopedia, Data Pengguna ‘Bhinneka’ Dijual Ratusan Juta Rupiah

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Selain tokopedia, peretas yang sama juga ‘menghajar’ Bhinneka dengan menjual 1,2 juta data pengguna toko online tersebut ke forum pasar gelap (dark web)

Berlanjutnya aksi peretas yang menurut cyberthreat.id bernama ShinyHunters tersebut karena keuntungan menggiurkan dari menjual 91 juta catatan data pengguna Tokopedia.

Data pemilik akun Tokopedia itu dijual seharga 5.000 dolar AS setara Rp 74 juta. Sementara data pengguna toko online penjual barang-barang elektronik itu menurut cyberthreat yang mengutip ZDnet.com ditawarkan bersama data pengguna 9 perusahaan lain.

Kesembilannya terdiri dari;
1. Aplikasi kencan online Zoosk (30 juta catatan pengguna)
2. Layanan cetak Chatbooks (15 juta catatan pengguna)
3. Platform mode Korea Selatan, SocialShare (6 juta catatan pengguna)
4. Layanan pengiriman makanan, Home Chef (8 juta catatan pengguna)
5. Pasar online Minted (5 juta catatan pengguna)
6. Surat kabar online Chronicle of Higher Education (3 juta catatan pengguna)
7. Majalah furnitur Korea Selatan, GGuMim (2 juta catatan pengguna)
8. Majalah kesehatan Mindful (2 juta catatan pengguna)
9. Surat kabar StarTribune AS (1 juta catatan pengguna)

Hasil penjualan data 10 perusahaan itu atau 73,2 juta pengguna, senilai 18 ribu dolar AS. setara Rp 270 juta. Sedangkan, khusus data pengguna Bhinneka dibanderol 1.200 dolar AS setara Rp 18 juta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini