Sentimen Global Membaik, Rupiah akan Dibuka Menguat Awal Pekan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah atas dolar AS diprediksi akan membuka awal pekan, 13 Januari 2020 dengan penguatan. Jumat lalu, mata uang garuda ditutup pada posisi Rp 13.773 per dolar AS atau menguat 0,56 persen.

Direktur Garuda Berjangka Ibrahim memperkirakan Senin ini, rupiah akan bergerak menguat di kisaran Rp 13.725 hingga Rp 13.790 per dolar AS.

Ia mengatakan, penguatan mata uang garuda masih akan dibayangi oleh sejumlah sentimen dari luar negeri di antaranya sebagai berikut.

Pertama, soal konflik AS dan Iran yang mulai mereda. “Hal itu ditandai dengan mundurnya kedua negara dari konfrontasi pada Rabu kemarin,” kata Ibrahim sore ini.

Kedua, soal gejolak geopolitik yang akan memberikan pengaruh dalam jangka pendek. Salah satu yang sedang ditunggu-tunggu pelaku pasar adalah negosiasi perdagangan fase pertama antara Amerika Serikat dengan Cina yang akan diteken dalam waktu dekat ini.

Di sisi lain Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 akan tumbuh 3 persen hingga 3,1 persen atau meningkat dari 2,9 persen.

Ketiga, soal Brexit. Pengesahan RUU Brexit oleh Perdana Menteri Inggris kian menguatkan negara tersebut untuk meninggalkan Uni Eropa pada 31 Januari 2020 nanti.

“Di sisi lain, Gubernur Bank of England Mark Carney mengisyaratkan akan melakukan penurunan suku bunga, jika kelemahan ekonomi tetap ada di Inggris,” ujar Ibrahim.

Sementara dari dalam negeri, dengan membaiknya ekonomi global, ikut membawa berkah terhadap perekonomian dalam negeri sehingga fundamental ekonomi indonesia semakin kuat.

“Apalagi Pemerintah dan Bank Indonesia terus bahu membahu melakukan kerjasama yang solid sehingga menghasilkan hasil yang maksimal. Maka wajar kalau mata uang garuda di awal tahun 2020 menjadi mata uang terbaik di Asia dan arus modal asing kembali masuk ke pasar dalam negeri,” kata Ibrahim.

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini