Selain Covid-19, India Mulai Waspadai Virus Nipah

Baca Juga

MATA INDONESIA, NEW DELHI – Virus Nipah menelan korban. Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun di negara bagian selatan India, Kerala meninggal dunia karena terinfeksi virus Nipah. Virus ini juga menginfeksi dua petugas kesehatan

Kematian tersebut merupakan insiden pertama di negara bagian yang dilanda Covid-19 setelah menimbulkan malapetaka di beberapa bagian distrik Kozhikode dan Malappuram sekitar tahun 2018.

Ketika Kerala mengalami peningkatan harian hampir 30 ribu kasus Covid-19, virus Nipah yang mematikan telah datang sebagai duri lain di sisinya, mendorong negara bagian itu untuk lebih meningkatkan kewaspadaan demi mencegah terjangkitnya infeksi yang berbeda.

Bertindak cepat, pemerintah negara bagian dan pusat mengirimkan petugas ke Kozhikode untuk menilai situasi di wilayah Chathamangalam Panchayat.

Apa itu virus Nipah, bagaimana penyebarannya?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Nipah (NiV) adalah virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia dan juga dapat ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi atau langsung antar manusia.

Pada orang yang terinfeksi, itu menyebabkan berbagai penyakit mulai dari infeksi asimtomatik (subklinis) hingga penyakit pernapasan akut dan ensefalitis fatal. Virus ini juga dapat menyebabkan penyakit parah pada hewan seperti babi, yang mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi peternak.

Meskipun virus Nipah hanya menyebabkan beberapa wabah yang diketahui hanya tersebar di Asia, virus ini menginfeksi berbagai macam hewan dan menyebabkan penyakit parah dan kematian pada manusia, membuatnya menjadi masalah kesehatan yang serius.

“Virus Nipah menyebar langsung dari manusia ke manusia melalui kontak dekat dengan sekresi dan ekskresi orang. Di Siliguri, India tahun 2001, penularan virus juga dilaporkan dalam pengaturan perawatan kesehatan, di mana 75 persen kasus terjadi di antara staf rumah sakit atau pengunjung,” demikian dikatakan WHO, melansir Livemint.

“Dari 2001 hingga 2008, sekitar setengah dari kasus yang dilaporkan di Bangladesh disebabkan oleh penularan dari manusia ke manusia melalui pemberian perawatan kepada pasien yang terinfeksi,” sambungnya.

WHO menyatakan bahwa infeksi pada manusia berkisar dari infeksi tanpa gejala hingga infeksi saluran pernapasan akut (ringan, berat), dan ensefalitis fatal. Orang yang terinfeksi virus Nipah awalnya mengembangkan gejala termasuk demam, sakit kepala, mialgia (nyeri otot), muntah dan tenggorokan sore.

Ini dapat diikuti oleh pusing, kantuk, kesadaran yang berubah, dan tanda-tanda neurologis yang menunjukkan ensefalitis akut. Beberapa orang juga dapat mengalami pneumonia atipikal dan masalah pernapasan parah, termasuk gangguan pernapasan akut. Ensefalitis dan kejang terjadi pada kasus yang parah, berkembang menjadi koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.

Angka kematian akibat virus Nipah diperkirakan 40 persen sampai 75 persen. Angka ini dapat bervariasi menurut wabah tergantung pada kemampuan lokal untuk surveilans epidemiologi dan manajemen klinis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini