Selain Saudara, Orang-orang Ini Bisa Jadi Pendonor Sumsum Tulang Belakang

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA-Istri presiden ke-6 Indonesia, Ani Yudhoyono, dipastikan akan sembuh dari penyakit kanker darah yang dideritanya. Pasalnya, Istri Susilo Bambang Yudhoyono itu dikabarkan telah mendapat pendonor sumusum tulang belakang untuk melancarkan pengobatannya.

Transplantasi sumsum tulang belakang atau sel punca (stem cell) adalah tindakan penting bagi pengobatan pasien kanker darah tipe leukemia, limfoma, atau myeloma.

Dengan transplantasi sumsum tulang belakang atau sel punca, pasien kanker darah bisa menjalani kemoterapi dosis tinggi serta pengobatan lainnya. Pasien bisa mendapat transplantasi melalui sel puncanya sendiri (autologous transplant) atau dengan sel punca dari donor yang pas (allogeneic transplant).

Lalu, siapa sajakah yang bisa menjadi pendonor sumsum tulang belakang? Bila ingin menjadi pendonor bagi pasien kanker darah, Anda harus punya sel punca yang cocok dengan pasien tersebut.

Perlu tes darah untuk melihatnya. Para staf laboratorium akan melihat permukaan sel darah Anda lalu membandingkannya dengan sel darah pasien yang memerlukan transplantasi.

Pemeriksaan ini diperlukan karena masing-masing orang memiliki set protein berbeda-beda pada permukaan sel darahnya. Protein HLA dan antigen histokompatibilitas yang diteliti di laboratorium. Hasil tes tersebut akan menunjukkan seberapa besar kecocokan HLA pada pendonor maupun calon penerima donor.

Saudara Kandung

Melansir laman Cancerresearchuk, saudara kandung cenderung menjadi donor yang paling cocok. Kemungkinannya 1 banding 4 sel-sel saudara kandung sangat cocok. Transplantasi dari donor yang berasal dari saudara kandung ini disebut matched related donor (MRD). Kecil kemungkinan saudara lain dalam keluarga yang memiliki kecocokan sebagai donor.

Bila Anda dan pasien yang akan menerima donor hanya memiliki 50 persen kecocokan, transplantasi sumsum tulang belakang atau sel punca masih tetap bisa dilakukan. Ini disebut haploidentical transplant.

Menurut National Marrow Donor Program, hanya 30 persen pasien yang bisa mendapatkan donor dari anggota keluarga yang benar-benar memiliki sel yang cocok. Jadi, transplantasi haploidentikal memang cenderung lebih mudah ditemukan diantara anggota keluarga besar, mengutip dari laman Medicalexpress.

Pasien kanker juga bisa mendapat donor dari anggota keluarga yang bukan saudara kandung. Ini disebut sebagai matched unrelated donor. Biasanya perlu banyak orang untuk dites tipe jaringan selnya untuk mendapatkan donor macam ini.

Berita Terbaru

Negara Membuka Dialog dan Mendengar Aspirasi Mahasiswa

*) Oleh: M. Farhan Akbar Demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari terselenggaranya pemilihan umumyang bebas dan adil, tetapi juga dari kemampuan negara membangun komunikasiyang terbuka dengan masyarakat. Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki posisistrategis sebagai kelompok intelektual yang kerap menyuarakan kritik, gagasan, sekaligus solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Kehadiran ruang dialog yang setara antara pemerintah dan mahasiswa menjadi indikator penting bahwa demokrasiberjalan secara substantif, bukan sekadar prosedural. Oleh karena itu, komitmenpemerintah untuk terus membuka ruang komunikasi patut dipandang sebagai langkahyang memperkuat kualitas tata kelola pemerintahan sekaligus memperkokohkepercayaan publik.Berbagai capaian pembangunan yang terus diupayakan pemerintah, mulai daripenguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga program pemberdayaanekonomi masyarakat, membutuhkan dukungan situasi yang aman dan kondusif. Karena itu, sinergi antara pemerintah, mahasiswa, akademisi, dan masyarakatmenjadi modal penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalan secaraoptimal dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.Lebih lanjut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa setiap aspirasi memilikinilai yang sama, baik berasal dari akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat di daerah terpencil. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak dapatdilepaskan dari partisipasi publik yang inklusif. Negara yang kuat bukanlah negara yang menutup diri terhadap kritik, melainkan negara yang mampu mendengarpersoalan, mengakui kekurangan, serta menjadikan masukan masyarakat sebagaidasar penyempurnaan kebijakan. Pendekatan seperti ini mencerminkankepemimpinan yang adaptif karena menempatkan dialog sebagai instrumen untukmenghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.Selanjutnya, keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa menunjukkanadanya perubahan paradigma dalam hubungan antara negara dan masyarakat sipil. Mahasiswa tidak lagi diposisikan semata sebagai kelompok penekan, tetapi sebagaimitra strategis dalam proses pembangunan nasional. Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai kritik dapat diterjemahkan menjadi bahan evaluasi, sedangkanberbagai gagasan dapat diolah menjadi rekomendasi kebijakan yang konstruktif. Pendekatan kolaboratif seperti ini memperkuat legitimasi kebijakan sekaligusmemperkecil potensi polarisasi yang sering muncul akibat minimnya komunikasiantara pemerintah dan publik.Pandangan tersebut diperkuat oleh Direktur Eksekutif Kata Rakyat, Alwan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini