Sekjen ESDM Sebut Transisi Energi Jadi Peluang Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Baca Juga

Mata Indonesia, Jakarta – Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dadan Kusdiana, mengungkapkan, transisi energi di Indonesia akan dijadikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan mendorong pertumbuhan ekonomi serta Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk menyongsong industri yang minim emisi dan memanfaatkan energi bersih ke depan.

Dadan menyebut, hal tersebut berbanding terbalik dengan negara-negara lain yang menganggap bahwa transisi energi merupakan tantangan yang sangat besar. “Misalnya Jepang dan Korea, mereka energinya impor. Tidak ada tuh kesempatan di dalam negerinya itu kalau melakukan transisi energi, apa yang akan dilakukan di dalam negeri,” ungkapnya.

Dadan juga menggambarkan kondisi negara tetangga Indonesia, yakni Singapura, dimana negara tersebut sudah melakukan pembelian listrik dari negara ASEAN lain, sehingga hal tersebut bisa dijadikan peluang bagi Indonesia untuk mengekspor listrik ke Singapura, yang berasal dari energi bersih.

Dadan memaparkan, Indonesia dari Aceh hingga Papua, memiliki potensi sumber EBT yang sangat melimpah dan belum dimanfaatkan dengan maksimal. Hal tersebut yang bisa dijadikan peluang dalam transisi energi untuk dioptimalkan sebagai pembangkit listrik yang ramah lingkungan dan rendah emisi, salah satunya adalah potensi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Papua.

“Misalkan dari barat, Aceh, disitu ada panas bumi, hidronya sekarang lagi dibangun cukup besar, disana energi angin juga demikian, sudah ada yang melakukan survei disana. Jadi kita paling barat itu sedikitnya ada tiga EBT. Kemudian ke paling timur, di Papua, disitu sumber PLTA terbesar justru ada di Papua sebetulnya 23 hingga 24 GW ada disana,” papar Dadan.

Lebih lanjut Dadan menyampaikan, di Merauke juga memiliki potensi angin yang sangat besar, dimana tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang telah menemukan potensi besar tersebut. Di samping itu, juga ada potensi hidro yang besar pula di Kalimantan Utara, dan di Pulau Jawa merupakan jalur panas bumi serta memiliki potensi hidro yang juga baik.

Dadan menjelaskan bahwa meski demikian, perlu dorongan untuk menarik investasi seperti industri-industri yang ditunjang dari sumber-sumber energi bersih di wilayah Indonesia yang merata. “Sehingga kalau kita dorong transisi energi ini pembangunannya ada di mana-mana, jadi dengan kacamata nasional yang lebih besar kita melihat justru Ini adalah opportunities transisi energi, ini adalah opportunities kita, Indonesia,” tandasnya. 

(Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini