Sebelum Pensiun, Ini Dua Mimpi Lionel Messi yang Ingin Diwujudkan, Apa Saja?

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA-Pada 24 Juni 2019, Bintang Barcelona dan Timnas Argentina Lionel Messi bakal berusia 32 tahun. Usia yang sudah tidak muda lagi bagi seorang pesepak bola.

Di usia tersebut, si kutu, julukan Lionel Messi telah memenangkan hampir semua trofi di sepak bola bersama Barcelona. Mulai dari 10 gelar La Liga Spanyol, empat trofi Liga Champions, tiga Piala Dunia Antarklub, satu bola emas Piala Dunia, lima Ballon d’Or, dan enam Sepatu Emas Eropa.

Sementara dengan Timnas Argentina, Lionel Messi pernah memenangkan FIFA Youth Championships 2005, Piala Dunia U-20 2007, dan medali emas Olimpiade 2008. Tetapi bersama Timnas Argentina senior, pemain berjuluk La Pulga itu belum pernah sekali pun memenangkan gelar juara.

Messi dan Timnas Argentina memiliki tiga final utama dalam beberapa tahun terakhir. Ketiga laga final tersebut di Piala Dunia 2014 melawan Jerman, Copa America 2015 dan Copa America Centenario 2016, keduanya melawan Chile. Tapi, semua final itu berakhir dengan kekalahan.

Lionel Messi berharap dia bisa mewujudkan dua hal sebelum memutuskan gantung sepatu. Pertama, memenangkan gelar juara bersama Timnas Argentina.

“Saya ingin menyelesaikan karier saya dan memenangkan sesuatu dengan tim nasional atau mencoba sebanyak mungkin, tidak ditinggalkan oleh orang-orang yang tidak menginginkan saya atau komentar buruk terhadap saya,” kata Messi.

Kedua, yang ingin diwujudkan Lionel Messi adalah bermain untuk klub masa kecilnya, Newell’s Old Boys. Dia pernah bergabung dengan klub Argentina itu saat berusia 7 tahun pada 1994 silam.

“Saya berada di Newell’s, saya akan pergi ke lapangan dan mimpi saya adalah bermain di stadion dan menjalani itu,” katanya. “Hidup membawa saya ke tempat lain, tapi impian saya adalah menjadi pemain profesional. Segala sesuatu yang datang melebihi segalanya.”

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini