Ramadan, Indonesia Dibanjiri 7.000 Ton Daging Kerbau India

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Ramadan nanti, pasar-pasar di Indonesia dipastikan akan dibanjiri daging kerbau impor asal India yang sengaja didatangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Disampaikan Kepala Bagian Informasi dan Humas Bulog Teguh, saat ini sudah 7.000 ton daging kerbau yang tiba di Tanah Air. Jumlah itu merupakan realisasi dari kuota impor sebesar 100 ribu ton yang sudah ditetapkan pemerintah.

“Iya, sekitar 7.000 ton yang sudah masuk,” ujar Teguh di Jakarta, Senin 22 April 2019.

Ia berkata, daging-daging kerbau beku itu adalah langkah serius pemerintah mengantisipasi kenaikan permintaan daging yang meningkat saat Ramadan dan lebaran, yang biasanya berefek pada kenaikan harga.

Berdasarkan Permendag Nomor 96 Tahun 2018 tentang penetapan harga acuan pembelian di petani dan harga acuan penjualan konsumen disebutkan, harga eceran tertinggi (HET) daging kerbau beku dipatok sebesar Rp 80 ribu per kilogram (kg). Sedangkan HET daging sapi segar dipatok dalam harga rata-rata Rp 105 ribu-Rp120 ribu per kg.

Menurut Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita, pasokan dagung menjelang Ramadan dipastikan aman. Saat ini, ketersediaan daging ada sekitar 90 ribu ton dan dipastikan dapat memenuhi kebutuhan selama Ramadan.

“Jumlah itu gabungan dari produksi lokal dan impor yang ada,” kata Ketut.

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini