Program Ekonomi Biru Diperkenalkan KKP ke Negara-negara IORA

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Program ekonomi biru yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) diperkenalkan ke negara-negara yang tergabung dalam forum IORA (Indian Ocean Rim Association).

“Kita punya komitmen untuk menerapkan prinsip blue economy lewat tiga program terobosan, salah satunya kebijakan penangkapan terukur. Itu yang bisa kita suarakan ke negara-negara IORA,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan (KP), Sakti Wahyu Trenggono di Jakarta.

Menteri KP Trenggono mengungkapkan, saat ini KKP memiliki tiga program terobosan di bidang perikanan tangkap dan juga budidaya.

Meliputi penerapan kebijakan penangkapan terukur berbasis kuota di setiap WPPNRI untuk keberlanjutan ekologi, peningkatan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dan kesejahteraan nelayan.

Kemudian pengembangan perikanan budidaya yang berorientasi ekspor dengan komoditas unggulan antara lain udang, lobster, kepiting, dan rumput laut. Lalu pembangunan kampung perikanan budidaya sesuai dengan kearifan lokal untuk pengentasan kemiskinan sekaligus menjaga komoditas bernilai ekonomis tinggi dari kepunahan.

Sebagai salah satu anggota IORA, KKP memiliki peran dalam area prioritas fisheries management yang telah diinisiasi dalam IORA Core Group on Fisheries Management (CGFM).

CGFM bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan, pengembangan, pemanfaatan dan kerja sama sustainable fisheries, serta untuk memastikan perlindungan dan konservasi sumber daya perikanan di kawasan, sebagaimana mandat IORA Jakarta Concord 2017.

Aktivitas CGFM sendiri mengacu pada work plan yang merupakan guiding document yang memuat isu-isu yang menjadi kepentingan bersama, serta bidang-bidang yang memerlukan perhatian dan fokus termasuk perikanan tangkap, perikanan budidaya, IUU fishing, perubahan iklim, keamanan pangan dan perdagangan.

“Melalui forum itu, saya ingin menerjemahkan mengenai blue economy yang merupakan ekosistem dengan kontribusi yang dilakukan oleh semua pihak,” katanya.

Sementara itu, Dubes Salman, menyambut baik program-program yang diusung KKP khususnya yang berkaitan dengan konsep ekonomi biru. Menurutnya, kebijakan tersebut selayaknya ditonjolkan ke negara-negara yang tergabung dalam forum IORA.

“Saya mendapat masukan yang sangat konkret. Pas sekali kebijakannya, bisa masuk dalam program IORA, kita juga bisa mengajak beberapa mitra termasuk kementerian lainnya untuk komitmen dan mendukung perihal isu kelautan,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sinergi Energi dan Teknologi Indonesia–Jepang Perkuat Ketahanan Nasional di Tengah Geopolitik Global

Oleh: Andika Ramadhan*Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menggerakkan diplomasi strategis melaluikunjungan resmi ke Jepang guna memperkuat kolaborasi energi dan teknologi sebagaifondasi masa depan Indonesia. Langkah ini tidak hanya dimaknai sebagai penguatanhubungan bilateral, tetapi juga sebagai respons adaptif terhadap dinamika geopolitik global yang semakin kompleks dan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi serta ketahananenergi dunia.Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap global menunjukkan kecenderungan meningkatnyafragmentasi ekonomi, disrupsi rantai pasok, serta volatilitas harga energi akibat konflikgeopolitik di berbagai kawasan. Dalam konteks tersebut, Indonesia memandang pentinguntuk memperluas kemitraan strategis dengan negara-negara maju yang memiliki kapasitasteknologi tinggi dan stabilitas ekonomi kuat, seperti Jepang.Kunjungan Presiden menghadirkan pertemuan penting dengan Kaisar Jepang, Naruhito, sertajajaran pemerintah Jepang, termasuk Perdana Menteri Sanae Takaichi. Pertemuan tingkattinggi ini menjadi simbol kuat dari kesinambungan hubungan kedua negara yang telahterjalin selama puluhan tahun, sekaligus menjadi momentum untuk memperluas cakupankerja sama yang lebih relevan dengan tantangan global saat ini.Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pertemuan tersebut merupakanlangkah konkret dalam memperkuat fondasi persahabatan kedua negara. Ia menyebutkanbahwa pembahasan mencakup sektor strategis seperti perdagangan, teknologi, pendidikan, kehutanan, dan lingkungan. Menurutnya, kolaborasi tersebut tidak hanya memperluaspeluang ekonomi, tetapi juga mempercepat transfer pengetahuan yang...
- Advertisement -

Baca berita yang ini