PM Boris Johnson Akan Menikahi sang Tunangan

Baca Juga

MATA INDONESIA, LONDON – Kabar bahagia datang dari tanah Inggris. Perdana Menteri Boris Johnson dan tunangannya Carrie Symonds dikabarkan telah menyebarkan undangan pernikahan kepada keluarga dan kerabat terdekat.

Johnson dan Carrie yang telah memadu kasih sejak 2018 itu rencananya akan mengikat janji suci pernikahan pada 30 Juli 2022, demikian dilaporkan The Sun, melansir Reuters, Senin, 24 Mei 2021.

Pada Februari 2020, Johnson dan Carrie Symonds –kekasihnya saat itu, mengatakan bahwa mereka bertunangan dan akan menikah. Johnson yang kini berusia 56 tahun dan Carry yang berusia 33 tahun itu telah tinggal bersama di Downing Street sejak dinobatkan sebagai Perdana Menteri Inggris tahun 2019.

Pasangan ini bahkan telah dikaruani seorang anak yang bernama Wilfred Lawrie Nicholas Johnson, yang lahir tahun lalu.

Johnson dikenal karena penampilannya yang kusut dan pidatonya yang flamboyan. Dan pria kelahiran New York ini semakin dikenal publik karena memelopori kampanye keluar dari Uni Eropa dan kemudian membawa Inggris keluar dari Uni Eropa atau yang dikenal dengan istilah Brexit.

Sebelumnya, sang Perdana Menteri telah menikah dengan Allegra Mostyn-Owen tahun 1987. Namun, pernikahannya dengan  perempuan berdarah Italia yang juga merupakan kekasihnya semasa di bangku kuliah harus berakhir tahun 1993.

Tak membutuhkan waktu lama untuk move on, ia kemudian menikahi Marina Claire Wheeler, yang merupakan seorang pengacara dan juga penulis di tahun yang sama. Bersama Marina, Johnson memiliki empat orang anak.

Sayangnya, biduk rumah tangga keduanya harus berakhir. Pada September 2018, kedua pasangan ini sepakat untuk menyudahi perjalanan cinta mereka selama 25 tahun dan resmi bercerai tahun 2020.

Kini, sang Perdana Menteri selangkah lagi menikahi sang pujaan hati. Dengan begitu, Carrie Symonds yang merupakan aktivis politik Inggris itu akan menjadi istri Johnson yang ketiga.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini