Plastik Kian ‘Mahal’, Margin Keuntungan UMKM Kulon Progo Kian Tergerus

Baca Juga

Mata Indonesia, Kulon Progo – Para pelaku usaha di Pasar Wates, Kabupaten Kulon Progo, mulai mengeluhkan lonjakan harga plastik yang terjadi secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan harga ini tidak hanya membebani pedagang grosir, tetapi juga berdampak domino terhadap keberlangsungan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta daya beli masyarakat.

Salah seorang pelaku usaha grosir plastik di Pasar Wates, Pak No, mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga sudah mulai dirasakan sejak satu minggu sebelum Idul Fitri dan terus berlanjut hingga pasca-Lebaran.

Menurutnya, pada pekan ini saja, harga plastik kembali merangkak naik sekitar 4 persen, terutama untuk jenis plastik bening.

Kenaikan ini dipicu oleh kebijakan penyesuaian harga harian dari tingkat distributor yang memaksa pedagang di pasar tradisional ikut mengubah label harga dengan cepat.

“Perubahan harga hampir terjadi setiap hari, jadi harga di pasaran juga ikut tidak stabil,” ujar Pak No, Minggu 19 April 2026.

Rincian Kenaikan Komoditas

Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa jenis produk kemasan mengalami lonjakan harga yang cukup drastis, di antaranya plastik PE Bening (kemasan es batu): naik dari Rp3.000 menjadi Rp5.500 – Rp6.000 per 1/4 kilogram.

Plastik Cup Minuman, naik dari Rp13.000 menjadi Rp20.000 – Rp22.000 per pack.

Plastik Kresek & Styrofoam, mengalami kenaikan hingga 60 persen. Sementara produk turunan (kertas minyak & dus snack) naik sekitar 20 persen.

Perabot plastik (gayung & ember) juga ikut naik dan mengalami penyesuaian harga.

Kenaikan ini berdampak langsung pada sektor kuliner. Harga produk makanan ringan (snack) dilaporkan ikut naik antara Rp2.000 hingga Rp5.000 per bal guna menutup biaya operasional yang membengkak.

Lonjakan harga plastik ini disinyalir kuat merupakan dampak dari ketidakstabilan kondisi global, termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi harga bahan baku polimer dunia.

Kondisi ini menempatkan pelaku UMKM dalam posisi dilematis. Di satu sisi biaya produksi meroket, namun di sisi lain daya beli masyarakat cenderung melemah.

Sebagai catatan, kemasan plastik memegang peranan krusial dalam struktur biaya produk UMKM, yakni berkisar antara 60 hingga 70 persen. Dengan kenaikan harga kemasan yang tidak terkendali, margin keuntungan pelaku usaha dipastikan akan tergerus secara signifikan.

Situasi ini dinilai berpotensi menurunkan produktivitas UMKM di Kulon Progo jika tidak segera diantisipasi dengan strategi adaptasi yang tepat.

Tanpa langkah mitigasi, risiko pelaku usaha gulung tikar menjadi ancaman nyata yang pada akhirnya dapat memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi daerah secara lebih luas.

Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan dapat memantau rantai distribusi guna memastikan tidak adanya praktik penimbunan yang dapat memperparah fluktuasi harga di tingkat pedagang eceran.

o

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pemilu 2029 Jangan Sekadar Nyoblos: Saatnya Gen Z NTT Berhenti Jadi Ladang Suara

Minews.id, Kota Kupang - Kalau ngomongin Pemilu 2029 sekarang, mungkin rasanya masih jauh di depan mata. Tapi kalau kita...
- Advertisement -

Baca berita yang ini