Petani Bunga di Tomohon Dibantu Perkuat Usaha Lewat Permodalan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Petani bunga binaan Klaster Usaha Bunga Krisan di Tomohon, Sulawesi Utara, diberikan bantuan berupa permodlan untuk memperkuat usahanya.

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan pihaknya terus mengambil peran dalam pemberdayaan pelaku UMKM dan dalam proses tersebut muncul jenis kesamaan usaha dalam satu wilayah yang akhirnya dikelompokkan menjadi klaster usaha.

“Tentunya dengan memperhatikan berbagai aspek mulai dari kualitas SDM, teknologi, potensi pasar, jaringan, inklusi, hingga pelatihan,” ujar Supari di Jakarta, Sabtu 5 Februari 2022.

BRI akan terus berupaya mengambil bagian dalam mengembangkan pertumbuhan usaha dengan memberikan pembinaan, pelatihan, bantuan sarana dan prasarana, hingga penasihat melalui para mantri, serta memberdayakan klaster usaha agar dapat menjadi embrio korporatisasi UMKM ke depannya.

Alexander Paat (51), seorang warga Tomohon yang mengetuai Klaster Usaha Bunga Krisan binaan BRI pun tak ragu saat mengubah usahanya dari petani hortikultura menjadi petani bunga krisan dengan berbekal semangat pantang menyerah.

Namun setelah mendapat kucuran dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI cabang Tondano, akhirnya harapan Alexander bisa terpenuhi dan semakin bisa mengembangkan usahanya.

Selain memberikan kucuran dana, BRI pun mendorong Alexander memperkuat ekosistem usaha melalui pembentukan klaster usaha binaan, sehingga ia pun menghimpun kolega sesama petani untuk membentuk Klaster Manimpayo dan menjadi ketua klaster tersebut.

Selama menjadi ketua klaster, ia mengaku terus mendorong kelompoknya untuk mengajukan pinjaman dana usaha kepada BRI, sehingga kini seluruh kelompok tani dalam klaster tersebut merasa bersyukur karena memperoleh kemudahan pengembangan usaha.

Alexander mengatakan pada Oktober 2022 pemerintah daerah juga akan mendorong ekspor bunga krisan dari Tomohon ke beberapa pasar di luar negeri, sebagai salah satu program kerja Pemerintah Kota Tomohon

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini