Persija Minta Izin Bermarkas di Bantul

Baca Juga

MATA INDONESIA, BANTUL – Persija Jakarta meminta izin menggunakan Stadion Sultan Agung, Bantul, sebagai kandang dalam lanjutan kompetisi Liga 1 2020 yang akan dimulai pada Oktober.

Manajemen Persija yang diwakili manajer Bambang Pamungkas bertemu dengan Bupati Bantul, Suharsono di kantor Bupati, Selasa 4 Agustus 2020.

Dalam pertemuan ini, Bambang Pamungkas secara resmi meminta izin kepada Bupati Bantul untuk dapat menggunakan Stadion Sultan Agung sebagai markas Persija di sisa kompetisi.

“Hari ini saya mewakili Persija bertamu ke Bantul, dalam rangka ‘sowan’ sekaligus secara resmi meminta izin kepada Bapak Suharsono. Bapak Bupati sangat welcome dan dengan senang hati menerima tim Persija untuk dapat menggunakan stadion kebanggaan masyarakat Bantul itu,” ujar Bambang, dikutip dari laman resmi klub, Rabu 5 Agustus 2020.

Pria yang akrab disapa Bepe itu menambahkan, dengan adanya lampu hijau dari Pemerintah Kabupaten Bantul memudahkan Persija melakukan persiapan, termasuk dalam pelaksanaan pertandingan. Komunikasi dengan pihak tuan rumah pun akan terus dilakukan.

“Selebihnya kami diminta untuk berkoordinasi dengan staf terkait yang akan siap membantu pelaksanaannya,” ungkap Bepe.

Dalam acara tersebut, manajemen Persija juga menyerahkan jersey Macan Kemayoran musim ini kepada Bupati Bantul, Suharsono dengan nomor punggung 01.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini