Perkembangan IPK Tunjukkan Jokowi Berupaya Keras Berantas Korupsi di Indonesia

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Untuk menggambarkan kondisi korupsi di sejumlah negara Transparansi Internasional setiap tahun memetakannya dengan indeks persepsi korupsi (IPK) yaitu sebuah ukuran untuk menggambarkan persepsi suatu masyarakat terhadap korupsi di negaranya.

Angka itu dalam skala 0 sampai dengan 100 yang berarti semakin mendekati 0 berarti negara tersebut sangat korup. Sebaliknya bila angkanya 100 berarti negara itu bersih dari praktik korupsi.

Berdasarkan angka IPK tersebut, Indonesia dipersepsikan terus melakukan pemberantasan korupsi dengan baik.

Pada 2004 misalnya hasil survei Transparansi Internasional Indonesia (TII) menunjukkan angka IPK Indonesia berada di angka 20 dan terus naik hingga di akhir masa jabatan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden pada 2014 angka IPK Indonesia menjadi 34.

Di era pertama Presiden Jokowi memimpin negeri ini, IPK tersebut juga terus meningkat dari 37 di tahun 2016 hingga 38 pada tahun lalu.

Sebuah peningkatan yang terkesan tidak berarti, namun hal itu diperoleh dengan usaha pemerintah yang keras. Angka tersebut membuat Indonesia berada di posisi 89 dari 180 negara.

Meski begitu, angka tersebut masih harus terus diperjuangkan setidaknya mencapai 50. Sebuah angka moderat untuk menyatakan negara kita relatif bersih dari korupsi sehingga investor tertarik menanamkan modalnya.(Yuri Giantini)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pelayanan Haji 2026 Mendapat Banyak Apresiasi

*) Oleh : Deva BarunaPelaksanaan ibadah haji tahun 2026 mendapat banyak apresiasi dari para jemaahIndonesia maupun berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraannya. Berbagaipembenahan layanan yang dilakukan sejak awal keberangkatan hingga kepulangandinilai memberikan kenyamanan yang lebih baik. Tidak sedikit jemaah yang mengakumerasa lebih tenang karena sistem pelayanan yang semakin tertata dan responsif. Mulai dari proses pemberangkatan di embarkasi, pendampingan selama di Tanah Suci, hingga layanan kesehatan dan konsumsi, semuanya berjalan dengan lebih baikdibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Situasi ini menjadi gambaran bahwa upayapeningkatan kualitas pelayanan haji terus menunjukkan hasil positif.Salah satu aspek yang paling banyak mendapat perhatian adalah peningkatanpelayanan transportasi dan akomodasi. Jemaah merasakan kemudahan saatperpindahan dari satu lokasi ibadah ke lokasi lainnya karena koordinasi petugas dinilailebih sigap dan terorganisasi. Bus antarjemput yang tersedia lebih teratur sehinggamampu mengurangi kepadatan dan antrean panjang, terutama saat puncakpelaksanaan ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Selain itu, fasilitas penginapanjuga dianggap semakin nyaman dengan kebersihan yang lebih terjaga serta jarak hotel yang relatif dekat dengan pusat kegiatan ibadah. Kondisi ini membuat jemaah, khususnya lanjut usia, merasa lebih terbantu dalam menjalankan rangkaian ibadah haji...
- Advertisement -

Baca berita yang ini