Peringatan Hari Pahlawan, Picu Covid-19 di AS Meroket Lebih dari 100 Ribu per Hari

Baca Juga

MATA INDONESIA, LOS ANGELES – Peringatan Hari Pahlawan Amerika Serikat (AS) membuat kasus covid-19 di negara Paman Sam itu meroket hingga 110 ribu kasus per hari.

Angka tersebut berarti terjadi kenaikan hingga lima kali lipat dibandingkan pekan Memorial Day di tahun sebelumnya.

Kondisi itu dilaporkan Majalah Mingguan Amerika Serikat, People Selasa 31 Mei 2022.

“Rata-rata kasus harian ‘jumlahnya juga diperkecil secara signifikan,” dengan kebanyakan orang yang teruji positif melalui tes cepat tidak dilaporkan, Selasa 31 Mei 2022.

Jumlah kasus Covid-19 kembali melonjak pada musim semi ini dengan Omicron dan subvariannya BA.2 dan BA.2.12.1.

Sub varian yang terakhir itu sangat mudah menginfeksi manusia, bahkan mereka yang telah divaksinasi booster sekalipun.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention) AS, sebagian besar wilayah di negara itu, khususnya Northwest, Midwest, Florida, dan West Coast, mengalami penularan level menengah atau tinggi.

AS telah melaporkan lebih dari 83 juta kasus Covid-19 dan lebih dari 1 juta kematian terkait sejak awal pandemi di negara itu sebagaimana data CDC.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini