People Power Ramai Ditolak, Pengamat: Rakyat Ingin Damai

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Meski terus digaungkan, people power yang dibungkus dengan nama Gerakan Kedaulatan Rakyat mendapat banyak penolakan dari masyarakat.

Menurut pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing, wajar gerakan people power itu banyak penolakan, karena masyarakat Indonesia ingin damai, dalam artian pemilu berawal dari kedamaian, dan berakhir dengan cara yang sama.

Secara lebih jelas, Emrus menyebut people power harus dilihat dari dua perspektif, yakni people power secara positif dan negatif.

People power secara positif dalam amatan Emrus adalah gerakan massa yang menginginkan perubahan baik. Contohnya yang terjadi di hari pemungutan suara 17 April 2019 lalu.

“Masyarakat secara tertib mengikuti pemilihan. Ini kan people power yang positif,” kata Emrus kepada Mata Indonesia News, Senin 20 Mei 2019.

Sedangkan people power yang negatif, Emrus mencontohkan adalah gerakan masyarakat yang berupaya menjatuhkan penguasa yang sah, yang dapat menimbulkan kegaduhan, perpecahan dan polarisasi di masyarakat akar rumput.

Gerakan ini, disebut Emrus, banyak terjadi di negara-negara lain sehingga menimbulkan kerusuhan. Maka, people power inilah yang dikhawatirkan terjadi di Indonesia, sehingga ramai mendapat penolakan.

“Setiap manusia itu ingin damai. Makanya terjadi penolakan terhadap people power yang cenderung negatif,” ujar Emrus.

Mengenai tuduhan people power diinisiasi langsung atas nama paslon 02 Prabowo-Sandiaga, Emrus menyebut itu tidak benar. Namun, ia berkata bahwa people power 22 Mei nanti kebanyakan digerakkan oleh aktor-aktor politik yang selama ini merupakan pendukung Prabowo-Sandiaga.

Berita Terbaru

Danantara, PSEL, dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Indonesia

*) Oleh: Citra Ningrum OktaviaPemerintah tengah menghadapi salah satu tantangan paling mendesak dalampembangunan nasional, yakni darurat sampah perkotaan yang selama bertahun-tahun berjalan tanpa penyelesaian menyeluruh. Timbunan sampah yang terusmeningkat tidak lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan telahmenjadi ancaman serius bagi kesehatan publik, kualitas ekosistem, hingga ketahananenergi nasional. Di tengah situasi tersebut, langkah pemerintah menggandengDanantara Indonesia untuk mempercepat pembangunan fasilitas PengolahanSampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan keputusan strategis yang menunjukkan keberanian negara keluar dari pola lama pengelolaan sampah yang stagnan. Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PSEL di enam lokasibersama 13 pemerintah daerah menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi bekerjadengan pendekatan parsial, tetapi mulai membangun sistem pengelolaan sampahyang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.Lebih jauh, penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentangpercepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrikmemperlihatkan adanya keseriusan politik pemerintah dalam membenahi tata kelolasampah nasional. Menko Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa regulasitersebut telah mendorong langkah konkret pemerintah pusat dan daerah untukbergerak lebih cepat dalam pembangunan PSEL. Target pembangunan sedikitnya 25 lokasi PSEL dalam dua hingga tiga tahun ke depan bukan hanya ambisi administratif, melainkan kebutuhan nyata untuk mengatasi kedaruratan sampah di puluhankabupaten dan kota. Selama ini, banyak proyek pengolahan sampah tersendat akibatbirokrasi panjang, lemahnya koordinasi antarlembaga, dan ketidakjelasan pembagiankewenangan. Karena itu, penyederhanaan prosedur serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, Danantara, dan pihak-pihak terkait menjadi fondasi pentingagar proyek strategis ini tidak kembali terjebak pada pola lamban yang merugikanmasyarakat.Selain itu, keterlibatan Danantara Indonesia memberi dimensi baru dalampembiayaan dan tata kelola proyek infrastruktur lingkungan di Indonesia. Selama ini, pengelolaan sampah kerap dipandang sebagai sektor yang minim nilai ekonomisehingga tidak menarik bagi investor besar. Padahal, di berbagai negara maju, pengolahan sampah telah berkembang menjadi industri energi hijau yang bernilaitinggi dan berkelanjutan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini