MataIndonesia, Jakarta – Penguatan produksi energi domestik dan percepatan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) menjadi fokus strategis pemerintah dalam memperkokoh ketahanan energi nasional. Kebijakan ini mencerminkan visi jangka panjang untuk membangun sistem energi yang mandiri, berkelanjutan, dan berdaya saing. Dengan memastikan pasokan energi yang stabil serta mendorong pemanfaatan sumber energi bersih, pemerintah menegaskan komitmennya dalam mewujudkan kemandirian energi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang ramah lingkungan dan berorientasi masa depan.
Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (KESDM), Tri Winarno menyampaikan, dalam rangka ketahanan energi nasional pemerintah sudah menetapkan tiga pilar utama, yaitu kemandirian energi, ketahanan energi, dan swasembada energi sehingga KESDM terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi BBM sekaligus mengurani impor.
“Kemudian pada ketahanan energi kita diharapkan dapat meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional melalui peningkatan kapasitas storage minyak di Indonesia. Pada swasembada energi, kita berupaya untuk paling tidak menurunkan impor energi melalui beberapa pendekatan,” jelas Tri.
Tak hanya itu, KESDM juga terus mendorong peningkatan potensi area wilayah kerja minyak dan gas bumi (migas) dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data KESDM, dalam dua tahun terakhir potensi area migas nasional sudah mencapai 110 area.
Pemerintah rencananya akan melelang 110 wilayah kerja migas tersebut. Sejauh ini, ia mencatat sudah ada beberapa tawaran dari investor yang hendak terlibat dalam lelang wilayah kerja migas tersebut.
Selain memperkuat produksi dan cadangan migas, KESDM juga aktif menjalankan program mandatory pencampuran BBM solar dengan minyak sawit sebesar 40% atau B40. Program B40 bahkan dinilai sudah mendongkrak devisa negara hingga Rp 130 triliun.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan program tersebut juga sukses membuka lapangan pekerjaan baru yang menjangkau 2 juta pekerja di Indonesia. Sehingga dari suksesnya program B40, pemerintah akan meningkatkan mandatory penggunaan biodiesel menjadi 50% atau B50.
“Uji coba B50 sudah tes lapangan. Sektor otomotif sudah 20.000 kilometer nanti sampai 50.000 km. Selebihnya program lain akan kita dorong,” tegasnya.
Upaya pemerintah dalam memperkuat produksi migas dan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) mendapat dukungan dari Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno. Ia mengapresiasi langkah strategis pemerintah dalam mendorong kemandirian energi nasional, khususnya melalui peningkatan penggunaan biodiesel program B40.
“Indonesia harus terus melangkah menuju kemandirian energi dengan memaksimalkan potensi sumber daya dalam negeri, salah satunya melalui program B40,” ujar Eddy.
Ia juga mendukung pengembangan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif dengan mencontoh keberhasilan Brasil dan Amerika Serikat. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan bioetanol berbasis tebu secara berkelanjutan.
“Kita punya potensi besar. Dengan penguatan produksi bahan baku di dalam negeri, bioetanol bisa menjadi pilar penting ketahanan energi nasional,” pungkasnya.
