Pengelolaan SDA dan UMKM Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Indonesia perlu mentransformasi pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan meningkatkan kontribusi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) agar pertumbuhan ekonomi dapat lebih berkelanjutan.

“Kita tahu Indonesia pengekspor dan pemasok komoditas terbesar di dunia, dan ke depan kita harus menekankan tentang ekspor komoditas yang berkesinambungan dan sustainable,” kata Ekonom Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja di Jakarta.

Menurutnya, dari survey UOB, sebanyak 50 persen responden mengatakan bahwa apabila ESG terkendali, business return untuk jangka waktu panjang akan jauh lebih baik.

Saat ini, baru negara-negara di Eropa yang berfokus mengendalikan dampak bisnis terhadap ESG, tetapi negara lain termasuk di Asia Tenggara akan beradaptasi dan turut melakukan hal yang sama.

“Ini kunci keberhasilan menjaga revenue dari komoditas yang berkesinambungan,” kata Enrico.

Selanjutnya, Indonesia juga perlu memperbanyak perjanjian dagang regional agar dapat mengekspor lebih banyak SDA, Di samping itu, dengan peningkatan jumlah masyarakat usia produktif yang melek teknologi, Indonesia perlu memanfaatkan digitalisasi dalam pengelolaan SDA karena nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai 100 miliar dolar AS dalam empat sampai lima tahun ke depan.

Sementara itu, untuk meningkatkan kontribusi UMKM pada perekonomian nasional, Enrico memandang Indonesia perlu juga meningkatkan akses pelaku UMKM terhadap teknologi digital. Pasalnya, saat ini hanya 15 persen dari pelaku UMKM yang mampu beradaptasi dengan mengadopsi teknologi digital guna meningkatkan kapasitas usaha mereka.

Indonesia juga perlu meningkatkan akses UMKM terhadap pendanaan atau kredit. Karena itu, Enrico mengapresiasi target pemerintah agar kredit UMKM mencapai 30 persen dari total kredit dalam empat sampai lima tahun ke depan.

“Di sini dibutuhkan reformasi, contohnya untuk standar akuntansi, pembukuan, dan cashflow UMKM, butuh dibenahi agar akses terhadap kredit boleh diberikan dengan baik,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini