Pele Dikabarkan Sudah Tak Bisa Berjalan Lagi, Mendekati Ajal?

Baca Juga

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Legenda hidup sepak bola dunia Pele dikabarkan sudah tak bisa bergerak lagi. Ia tak bisa berjalan dan harus menggunakan kursi roda untuk melakukan aktivitas.

Kabar ini disampaikan putra Pele, Edinho yang menyebut sang legenda memiliki masalah serius pada pinggulnya sehingga harus menggunakan alat bantuk untuk bergerak. Sebenarnya, kondisi ini bukanlah hal baru, karena Pele sudah beberapa kali tampil di publik menggunakan kursi roda.

Kesehatan Pele di usianya yang ke-79 tahun belakangan ini terus memburuk. Pada 2019 lalu, pahlawan sepak bola Brasil itu harus mendapat penanganan serius akibat infeksi saluran kemih.

Pada 2015 lalu, Pele juga terpaksa menjalani operasi prostat untuk kedua kalinya hanya dalam waktu enam bulan.

“Bayangkan dia raja, dia selalu sosok yang mengesankan dan hari ini dia tidak bisa berjalan dengan baik,” kata Edinho, seperti dikutip dari BBC, Selasa 11 Februari 2020.

Kondisi itu membuat Pele depresi. Edinho berkata ayahnya sudah tak percaya diri lagi untuk tampil di publik. Ia bahkan tak mau keluar rumah karena malu harus menggunakan kursi roda.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini