Olimpiade Musim Dingin Beijing = Permainan Genosida Cina

Baca Juga

MATA INDONESIA, LAUSANNE – Olimpiade Musim Dingin yang akan digelar di Beijing, Cina tahun depan menuai pro dan kontra. Sejumlah negara memutuskan takkan mengirim perwakilan diplomatiknya ke ajang tersebut, salah satunya Amerika Serikat (AS).

Boikot diplomatik yang dilakukan AS, menyusul pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Negeri Tirai Bambu terhadap Muslim Uighur. Boikot diplomatik memungkinkan atlet AS untuk bersaing, tetapi dipandang sebagai penghinaan dan salah satu kecaman paling umum Presiden Joe Biden terhadap Beijing.

Terbaru, sejumlah pengunjuk rasa menuntut boikot global Olimpiade Musim Dingin di Cina menargetkan markas Komite Olimpiade Internasional Swiss. Para pengunjuk rasa bahkan memborgol diri ke cincin Olimpiade yang berada di luar gedung.

Kelompok kecil itu, termasuk anggota organisasi kebebasan Tibet. Mereka mencemooh Olimpiade Beijing 2022 sebagai “Permainan Genosida” saat mereka memprotes selama pertemuan pejabat tinggi Olimpiade di Lausanne.

Selain dua warga negara Tibet yang memborgol diri mereka ke ring, dua aktivis lainnya membentangkan spanduk di sepanjang pintu masuk gedung, bertuliskan “No 2022 Beijing”. Sementara itu, lima lainnya masuk ke dalam dan duduk sebagai protes.

Para pengunjuk rasa yang melakukan aksi merupakan anggota Asosiasi Pemuda Tibet dan Mahasiswa untuk Tibet Merdeka di Eropa.

Sebagaimana diketahui, Cina menguasai Tibet pada 1950 dalam apa yang diklaimnya sebagai “pembebasan damai.” Tibet sejak itu menjadi salah satu daerah yang paling dibatasi Beijing.

Melansir New York Post, Minggu, 12 Desember 2021, para kritikus, yang dipimpin oleh pemimpin spiritual di pengasingan, Dalai Lama, mengatakan aturan Beijing adalah “genosida budaya.”

“Meskipun meningkatnya kritik internasional terhadap IOC dan Cina, pelanggaran hak asasi manusia rezim Cina di Tibet, Turkestan Timur dan Hong Kong terus berlanjut,” Tenzing Dhokhar, Direktur Kampanye TYAE, salah satu pengunjuk rasa, mengatakan kepada Reuters.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya selalu mendengarkan semua kekhawatiran yang terkait langsung dengan Olimpiade.

“Kami telah terlibat beberapa kali dengan pengunjuk rasa damai dan menjelaskan posisi kami, tetapi kami tidak akan terlibat dengan pengunjuk rasa kekerasan yang menggunakan kekuatan untuk memasuki gedung dan melukai seorang penjaga keamanan dengan melakukannya,” demikian pernyataan IOC.

Tahun 1980, Presiden Jimmy Carter memerintahkan boikot penuh AS terhadap Olimpiade Musim Panas di Moskow sebagai tanggapan atas invasi Soviet ke Afghanistan.

Sebanyak 65 negara menolak untuk berpartisipasi dalam Olimpiade Moskow. Uni Soviet membalas dengan memimpin boikotnya sendiri empat tahun kemudian, ketika Olimpiade diadakan di Los Angeles.

Olimpiade Musim Dingin 2022 akan berlangsung pada 4 Februari hingga 20 Februari. Ini akan menjadi kedua kalinya Beijing menjadi tuan rumah Olimpiade, setelah sebelumnya menjadi tempat Olimpiade Musim Panas 2008.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Kehadiran TNI-Polri Menjadi Pilar Utama Menjaga Papua Tetap Aman dan Damai

Oleh: Yonas Kogoya*Keamanan dan stabilitas di Papua terus menunjukkan penguatan seiring meningkatnyasinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjagaketertiban wilayah. Berbagai langkah strategis yang dilakukan TNI dan Polri menjadibagian penting dari upaya negara menghadirkan rasa aman sekaligus memastikanpembangunan di Papua berjalan secara berkelanjutan. Situasi tersebut memperlihatkankomitmen kuat negara dalam melindungi masyarakat Papua agar dapat menjalankanaktivitas sehari-hari dengan tenang, produktif, dan penuh harapan menuju masa depanyang lebih maju.Operasi gabungan TNI di bawah kendali Komando Gabungan Wilayah Pertahanan(Kogabwilhan) III bersama Koops Habema menjadi bukti nyata keseriusan negara dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua. Keberhasilan aparat dalammempersempit ruang gerak kelompok separatis serta mengamankan berbagaiperlengkapan tempur menunjukkan bahwa upaya penegakan keamanan dilakukansecara profesional, terukur, dan bertanggung jawab. Langkah tersebut sekaligusmemberikan optimisme bahwa Papua semakin berada dalam kondisi yang kondusifuntuk mendukung pembangunan di berbagai sektor.Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto menegaskan bahwa seluruh operasikeamanan bertujuan memastikan masyarakat dapat menjalankan aktivitas secara aman, termasuk anak-anak yang bersekolah dan masyarakat yang bekerja membangunperekonomian daerah. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa orientasi utama negara adalah melindungi rakyat dan menciptakan suasana damai demi kemajuan Papua. Keamanan bukan hanya soal menjaga wilayah, tetapi juga menjaga harapanmasyarakat agar dapat menikmati pembangunan dan kesejahteraan secara merata.Keberhasilan aparat keamanan dalam menjaga wilayah strategis di Papua juga memperlihatkan semakin kuatnya koordinasi lintas sektor. Dukungan masyarakatterhadap upaya menjaga stabilitas menjadi faktor penting yang mempercepatterciptanya kondisi aman dan tertib....
- Advertisement -

Baca berita yang ini