Menteri PUPR: Tol BORR Seksi IIIA Siap Dioperasikan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Pembangunan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) Seksi IIIA yakni Ruas Simpang Yasmin-Kayu Manis sepanjang tiga kilometer tersebut siap dioperasikan.

“Ruas Tol BORR Seksi IIIA telah melalui tahap uji statis dan uji dinamis menggunakan kendaraan berat jenis truk lebih dari satu kali untuk mendapatkan hasil yang konsisten dan mengetahui kualitas kekuatan jembatan tol tersebut,” kata Menteri PUPR  Basuki Hadimuljono dalam pernyataan tertulisnya, Rabu 4 November 2020.

Sedangkan pelaksanaan uji dinamis dilakukan untuk mengetahui faktor redaman jembatan dan Dynamic Amplification Factor (DAF). Dengan total panjang 11.4 kilometer, Basuki mengatakan ruas tol BORR merupakan jalan alternatif untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Bogor dan sekitarnya.

“Tol ini dapat memudahkan pergerakan masyarakat dan meningkatkan taraf ekonomi Bogor sebagai bagian dari kawasan metropolitan Jabodetabekpunjur,” katanya.

Basuki menambahkan, Jalan Tol BORR juga dapat mendukung kawasan wisata di sekitar Bogor. Beberapa diantaranya dengan kawasan puncak Ciawi dan Kebun Raya Bogor.

Jalan Tol BORR yang dikelola oleh PT Marga Sarana Jabar terbagi menjadi 3 seksi, yaitu Seksi I Sentul Selatan-Kedung Halang yang telah dioperasikan pada 2009, Seksi IIA Kedung Halang-Kedung Badak yang diresmikan pada 2014 dan Seksi II B Kedung Badak-Simpang Yasmin yang telah diresmikan pada 2018 dengan panjang Seksi I dan II yaitu 8,45 kilometer. Kemudian dilanjutkan Seksi III Simpang Yasmin-Kayu Manis dengan panjang 3 kilometer.

Jalan tol dengan nilai investasi sebesar Rp 2,05 triliun tersebut dibangun dua arah menggunakan jenis perkerasan kaku. Tol tersebut juga memiliki masa konsesi selama 45 tahun sejak SPMK.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Satelit Indonesia dan Jalan Panjang Menjaga Kedaulatan Informasi Nasional

Oleh: Abdul Nuhaiman*Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat kedaulataninformasi nasional melalui percepatan pembangunan infrastruktur satelit sebagaifondasi transformasi digital Indonesia. Langkah strategis tersebut tidak hanyamemastikan konektivitas menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), tetapi juga memperkuat ketahanan nasional di bidangkomunikasi, ekonomi digital, pendidikan, kesehatan, hingga pertahanan dan keamanan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi global, penguatan kapasitassatelit nasional menjadi bukti bahwa pemerintah mempersiapkan Indonesia agar mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju sebagai bangsa yang mandiri, berdaulat, dan berdaya saing dalam mengelola ruang digital maupun ruang antariksa. Peluncuran satelit multifungsi SATRIA-1 menjadi salah satu langkah penting dalammemperluas akses internet, khususnya di wilayah terpencil, terluar, dan tertinggal. Satelit tersebut dirancang untuk melayani ribuan titik layanan publik seperti sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, hingga fasilitas pertahanan dan keamanan. Kehadiran satelit nasional bukan hanya mempersempit kesenjangan digital antarwilayah, tetapi juga memberikan kesempatan yang lebih merata bagi masyarakatdalam memperoleh layanan pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi digital. Dengansemakin luasnya akses internet, peluang pengembangan usaha mikro, pembelajarandaring, dan pelayanan publik berbasis digital juga semakin meningkat.Di sisi lain, penguasaan satelit tidak cukup hanya dengan memiliki perangkat yang mengorbit di angkasa. Indonesia juga perlu membangun ekosistem industri antariksayang kuat, mulai dari pengembangan sumber daya manusia, riset teknologi, manufaktur komponen, hingga kemampuan mengoperasikan dan memelihara satelitsecara mandiri. Selama ini sebagian besar teknologi satelit masih melibatkan kerjasama dengan perusahaan luar negeri. Kerja sama tersebut memang penting sebagaibagian dari transfer teknologi, namun dalam jangka panjang Indonesia perlumeningkatkan kemampuan nasional agar tidak terus bergantung pada negara lain. Perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri teknologi, dan pemerintah perlumemperkuat kolaborasi agar inovasi di bidang antariksa dapat berkembang secaraberkelanjutan.Selain aspek teknologi, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah perlindunganterhadap data nasional. Perkembangan kecerdasan buatan, komputasi awan,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini