Menkominfo Sebut Ada 500 Ribu URL Hoax Terkait Papua

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA-Tercatat ada lebih dari 500 ribu Uniform Resource Locator (URL) hoax terkait Papua yang ditemukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

Menkominfo Rudiantara mengatakan update terakhir jumlahnya sudah lebih 500 ribu, URL yang digunakan untuk menyebarkan hoax.

Hoax yang dimaksud adalah pesan yang mengandung adu domba serta informasi palsu yang dikhawatirkan memperparah keadaan. Sebelum ini, Kominfo sudah mengantongi data 230 ribu URL hoax.

“Hoax dalam artian berisi pesan adu domba, informasi palsu dan konten yang dikhawatirkan memperparah kondisi konflik di Papua dan Papua Barat,” ujarnya.

Rudiantara mengatakan penyebaran hoax terkait situasi di Papua dan Papua Barat ramai melalui media sosial Twitter. Karena itulah, hingga kini, pihaknya belum memulihkan akses internet di kedua provinsi tersebut untuk meredam konflik yang lebih luas dan lebih parah.

“Sekarang sedang direview oleh teman-teman semua. Bukan hanya Kominfo. Yang paling tahu soal kondusivitas atau tidaknya kan aparat keamanan dan aparat hukum,” katanya.

 

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini