Mendikbud: Ribut-Ribut Soal Zonasi Bermuatan Politis

Baca Juga

MINEWS.ID, JAKARTA – Ribut-ribut soal zonasi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) bermuatan politik.

“Yang peristiwa ribut-ribut itu juga, ada diduga, saya duga ada muatan politik juga,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy di Gedung DPR Senayan, Senin 24 Juni 2019.

Menurutnya, kuota lima persen untuk siswa luar zona dinilainya sudah bijak dan baik.

Sekarang bahkan ditambah menjadi 15 persen, khusus untuk daerah-daerah menolak kuota pertama tersebut.

Muhadjir juga merasa heran urusan zonasi sekolah menjadi ribut sekarang padahal sudah diterapkan sebelumnya.

Menurut dia tahun lalu, sebenarnya lebih parah. Saat itu ribuan orang mampu tidak malu meminta surat keterangan miskin palsu.

Persoalan yang sekarang adalah protes soal kuota untuk siswa berprestasi bisa pindah zona sekolah sesuai keinginan mereka.

Menteri Muhadjir, seperti dilansir antara, menduga masalah itu tidak akan terjadi jika daerah-daerah memberikan kesempatan yang lebih bijak kepada siswa berprestasi.

Dia menyontohkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang merangkin dan memadukan antara jarak dan capaian akademik siswa dalam ujian nasional.

Menurut Menteri Muhadjir, ribut-ribut soal zonasi dalam PPDB, semata-mata karena daya tampung sekolah tidak sebanding dengan jumlah siswa yang lulus.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu juga sadar bahwa penerapan sistem zonasi tidak bisa diterapkan mentah-mentah. Maka perlu ada sedikit penyesuaian saja.

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini