Masyarakat Papua Diminta Tak Terpengaruh dengan Pengibaran Bintang Kejora Hari Ini

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAYAPURA – Ketua LMA Port Numbay di Kota Jayapura, George Awi mengimbau kepada segenap masyarakat Papua untuk tidak terpengaruh maupun terprovokasi dengan pengibaran bendera bintang kejora. Seperti diketahui, sebuah bendera Bintang Kejora berkibar di ujung Tower BTS yang berada disekitar Pasar SP 4, Distrik Manimeri, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat pada Rabu 1 Desember 2021.

Menurutnya, peringatan 1 Desember yang sengaja dihembuskan oleh kelompok-kelompok yang berseberangan dengan pemerintah hanya akan merugikan saja.

“Jangan terpengaruh dengan penaikan bendera (bintang kejora) atau lain sebagainya, sebab tanggal 1 itu adalah hari peringatan AIDS sedunia,” katanya.

Ia mengharapkan agar masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa saja, sebagaimana keseharian dan tidak perlu takut dan terpengaruh dengan ajakan yang menyesatkan.

“Jadi, masyarakat jangan terpengaruh dengan isu yang dibuat untuk memecah belah persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa, jalankan pekerjaan atau tugas seperti biasanya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Pemuda Adat Wilayah Saireri Ali Kabiay. Ia menegaskan bahwa sebenarnya sejarah perjuangan politik Papua merdeka sudah selesai dan sudah tidak relevan di zaman sekarang.

“Bagi saya hal tersebut hanya sebuah dinamika karena perjuangan Papua merdeka sudah tidak relevan lagi zaman sekarang. Karena negara–negara di Pasifik, Eropa dan Amerika lebih fokus mengurus ekonomi dan maraknya varian baru covid–19 sehingga politik dan dinamika Papua merdeka semakin tenggelam,” katanya.

Menurutnya, masyarakat internasional malah mengetahui tanggal 1 Desember sebagai hari AIDS sedunia sehingga isu-isu politik Papua merdeka sudah tidak relevan lagi.

“Dan bulan desember merupakan bulan damai bagi umat kristiani dan umat lainnya di dunia,” ujarnya.

Ia pun mengajak semua pihak untuk memaknai tanggal 1 Desember sebagai hari AIDS sedunia dan sebagai awal memasuki perayaan Natal.

“Mari kita sama–sama mengintropkesi diri agar menjadi lebih baik lagi. Dan saya pikir masyarakat di Papua sudah cerdas dan bisa menyikapi setiap dinamika dengan lebih bermoral dan beretika, sehingga kita bisa bersama-sama bersatu untuk menjaga Tanah Papua menjadi lebih baik, khususnya di kabupaten Nabire yang sangat kita cintai ini,” katanya.

Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP), Herman Yoku juga menegaskan bahwa 1 Desember yang biasa diklaim sebagai HUT Papua merdeka adalah hal yang salah dan keliru.

“1 Desember yang selama ini diklaim sebagai HUT Kemerdekaan Papua Barat adalah kekeliruan dan juga penipuan sejarah yang terus dipelihara hingga saat ini,” ujarnya.

Sosok yang juga menjadi saksi sejarah Papua ini pun meminta semua pihak untuk memahami soal sejarah dengan lebih utuh dan tidak setengah-setengah memaknainya sehingga tidak salah dalam menilai suatu hal.

“Hal inilah yang tidak dipahami oleh generasi saat ini yang masih percaya bahwa 1 Desember adalah kemerdekaan Papua Barat, itu salah,” katanya.

Menurutnya, pada tahun 1963, Integrasi Irian (Papua) ke NKRI saat masa peralihan, penjajah Belanda tidak ingin angkat kaki dari Irian atau Papua. Sehingga berbagai cara digunakan untuk menganggu kedaulatan NKRI dengan menciptakan Bendera Bintang Kejora yang diambil dari Bendera Club Sepak bola Nafri dan dijadikan sebagai bendera bangsa West Papua. “Inilah yang tidak diketahui,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Upaya Bersama Diperlukan untuk Jaga Situasi Kondusif Saat Idul Fitri

Oleh: Hafidz Ramadhan Pratama Perayaan Hari Raya Idul Fitri yang selalu identik dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, dinamika sosial, serta potensi kerawanan keamanan, kebutuhan akan sinergi lintas sektor menjadisemakin mendesak untuk diwujudkan secara konkret. Stabilitas keamanan dan ketertibanmasyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum, melainkan jugamemerlukan dukungan aktif dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga peran strategismedia sebagai penyampai informasi yang membentuk persepsi publik. Dalam konteks ini, menjaga suasana kondusif bukan sekadar upaya teknis, tetapi juga merupakan bagian darikomitmen kolektif dalam merawat persatuan di tengah keberagaman. Kapolda Jawa Timur Irjen Nanang Avianto menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasiantara kepolisian dan media melalui momentum buka puasa bersama insan pers yang tergabungdalam Pokja Polda Jatim. Kegiatan yang turut dihadiri Wakapolda Jatim Brigjen Pasma Royce serta jajaran pejabat utama tersebut menjadi simbol bahwa komunikasi yang terbuka dansinergitas yang solid merupakan fondasi penting dalam menjaga stabilitas daerah, khususnya saatada agenda nasional dan Idul Fitri. Dalam pandangannya, insan pers memiliki posisi strategissebagai mitra kepolisian dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang kepadamasyarakat, sehingga mampu mencegah berkembangnya informasi yang menyesatkan. Irjen Nanang Avianto juga melihat bahwa media tidak hanya berfungsi sebagai penyampaiinformasi semata, tetapi juga berperan sebagai penyejuk di tengah dinamika sosial yang berkembang. Dalam situasi yang rawan terhadap provokasi dan penyebaran informasi yang tidakterverifikasi, media diharapkan mampu menghadirkan pemberitaan yang edukatif sertamembangun opini publik yang konstruktif. Dengan demikian, masyarakat tidak mudahterpengaruh oleh isu-isu yang dapat memicu keresahan atau konflik. Ia menekankan bahwaketerbukaan informasi publik merupakan bagian dari komitmen Polri dalam mewujudkantransparansi dan akuntabilitas, yang pada akhirnya akan memperkuat kepercayaan masyarakatterhadap institusi negara. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Maluku melalui Wakil Gubernur Abdullah Vanath turutmengingatkan pentingnya menjaga harmoni dan memperkuat toleransi antarumat beragama, terutama karena perayaan Idul Fitri dan Hari Raya Nyepi berlangsung dalam waktu yang berdekatan. Abdullah Vanath menilai bahwa masyarakat Maluku memiliki pengalaman panjangdalam menjaga kebersamaan, sehingga diharapkan mampu mempertahankan kondisi yang amandan damai. Ia menegaskan bahwa masyarakat saat ini telah menunjukkan kedewasaan dalamkehidupan sosial, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang berupaya memecahbelah persatuan. Abdullah Vanath juga mengingatkan bahwa pengalaman masa lalu harus dijadikan pelajaran agar konflik serupa tidak kembali terulang. Menurutnya, tidak ada alasan bagi masyarakat untukkembali pada situasi yang pernah menimbulkan perpecahan. Justru, momentum perayaankeagamaan harus dimanfaatkan untuk memperkuat rasa persaudaraan dan saling menghormati. Dalam konteks ini, toleransi bukan hanya menjadi konsep normatif, tetapi harus diwujudkandalam sikap nyata, seperti menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing umat beragama. Langkah konkret juga ditunjukkan melalui koordinasi yang dilakukan Pemerintah ProvinsiMaluku dengan forum komunikasi pimpinan daerah, tokoh agama, serta aparat keamanan. Sinergi ini bertujuan memastikan bahwa seluruh potensi gangguan dapat diantisipasi sejak dini, sehingga perayaan hari besar keagamaan dapat berlangsung dengan aman dan lancar. Pendekatankolaboratif ini menunjukkan bahwa stabilitas tidak dapat dicapai secara parsial, melainkanmelalui kerja sama yang terintegrasi. Hal senada juga disampaikan Kapolda Nusa Tenggara Barat Irjen Pol Edy Murbowo S.I.K. M.Si. yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan danketertiban wilayah saat perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Dalam keterangannya, Irjen Edy Murbowo menekankan pentingnya menjagakebersamaan dan memperkuat nilai-nilai toleransi sebagai fondasi utama dalam menciptakanstabilitas keamanan. Ia menilai bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hiduprukun, melainkan kekuatan yang dapat memperkokoh persatuan. Irjen Edy Murbowo juga melihat bahwa momentum perayaan dua hari besar keagamaan yang berdekatan dapat menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan antarumat beragama. Iamengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan masing-masing agar tetapaman dan kondusif, sehingga seluruh rangkaian perayaan dapat berjalan dengan tertib dan penuhkedamaian. Seruan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keamanan bukan hanya tanggungjawab aparat, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh warga. Dalam satu tahun terakhir, pemerintah telah menunjukkan berbagai capaian signifikan dalammenjaga stabilitas nasional, mulai dari keberhasilan mengendalikan inflasi terutama saat haribesar keagamaan, peningkatan efektivitas pengamanan arus mudik melalui koordinasi lintasinstansi, hingga penguatan layanan publik berbasis digital yang semakin memudahkanmasyarakat dalam mengakses informasi dan layanan. Selain itu, upaya memperkuat moderasiberagama serta pendekatan humanis yang dilakukan aparat keamanan juga berkontribusi dalammenciptakan suasana yang lebih kondusif di berbagai daerah, sehingga kepercayaan publikterhadap pemerintah terus meningkat. Dengan melihat berbagai upaya yang telah dilakukan oleh aparat keamanan, pemerintah daerah, serta dukungan masyarakat, dapat disimpulkan bahwa menjaga situasi kondusif saat Idul Fitrimembutuhkan komitmen bersama yang berkelanjutan. Sinergi antara media, pemerintah, danmasyarakat harus terus diperkuat agar setiap potensi gangguan dapat diantisipasi dengan baik. Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa diajak untuk terus menjaga persatuan, meningkatkantoleransi, serta berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan damai, sehinggamomentum Idul Fitri benar-benar menjadi ajang mempererat kebersamaan dan memperkuatharmoni sosial di Indonesia. *) Peneliti Keamanan Dalam Negeri dan Komunikasi Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini