Lucas Moura, Pahlawan Tottenham dari Kampung Kriminal

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA-Nama Lucas Moura langsung melambung usai mencetak hattrick yang mengantarkan Tottenham Hotspur ke partai puncak Liga Champions musim 2018-2019.

Tiga gol yang dilesatkan oleh Lucas Moura ke kandang Ajax Amsterdam di leg 2 semifinal Liga Champions memastikan Tottenham Hostpur meraih kemenangan 3-2 dan lolos ke babak final, Kamis 9 Mei 2019 lalu.

Dengan kemenangan yang diraihnya ini mengubah Lucas dari seorang pecundang menjadi pahlawan.  Dan membangkitkan Tottenham seperti bangkit dari kematian karena mencetak rekor untuk kali pertama sepanjang sejarah klub mampu ke final Liga Champions.

Spurs juga menjadi tim kedelapan asal Inggris yang sanggup ke partai paripurna Piala/Liga Champions setelah Arsenal, Aston Villa, Chelsea, Leeds United, Liverpool, Manchester United, dan Nottingham Forest. Selain itu, mereka juga jadi klub ke-19 dari seluruh tim di Eropa yang sukses menyegel partai puncak sejak era Liga Champions bergulir.

Diketahui musim ini adalah musim pertama Moura bermain semusim penuh. Ia baru didatangkan Spurs dari Paris Saint-Germain (PSG) pada Januari 2018. Namun, setelah menjelma menjadi bintang dalam semalam, seperti apa latar belakang sang pemain.

Ia bernama lengkap Lucas Rodrigues Moura da Silva, yang lahir di Kota Sao Paulo, bagian tenggara Brasil pada 13 Agustus 1992. Kota dengan kepadatan tertinggi di Brasil dengan total penduduk 21.391.624 juta per 2017 menurut Institut Geografi dan Statistik Brasil, IBGE.

Kota kelahiran Lucas, sendiri Sao Paulo ditetapkan sebagai kota terpadat ke-12 di dunia. Hanya, di kota yang relatif besar tersebut, Moura tidak menikmati masa kecilnya dengan rasa aman. Pada akhir tahun 90 an dan awal 2000 an, ia merasakan bahwa kota tempat tinggalnya dipenuhi dengan kriminalitas yang membahayakan.

“Waktu itu sangat sulit, saat saya masih kecil ada banyak masalah seperti kekerasan, sekawanan berandal, senjata api, dan narkotika. Sebuah kehidupan kriminal,” ujarnya.

Situasi yang demikian tentu mengganggu Moura yang tengah menimba ilmu sepak bola di Club Atletico Juventus antara 1999-2002 dan Corinthians pada 2002-2005. Bahkan Manchester United dan Inter Milan terang-terangan ingin mengontrak Moura pada musim panas 2012. Kala itu usianya masih 19 tahun.

Namun, Paris Saint-Germain (PSG) yang kala itu diasuh Carlo Ancelotti, adalah tim yang memenangi berburuan sang pemain. Moura pun menjejakkan kaki ke Parc des Princes pada Januari 2013 dengan 45 juta euro sebagai ongkosnya.

Enam tahun di PSG, Moura mempersembahkan 16 trofi domestik, termasuk empat gelar juara Liga Prancis secara beruntun mulai musim 2012-2013 hingga 2015-2016. Hanya, porsi main yang kurang sejak kedatangan pelatih Unai Emery pada medio 2016, membuat Moura berpikir-pikir untuk bertahan. Utamanya pada musim kedua sang pelatih.

Bak gayung bersambut, keinginannya untuk pindah diendus pelatih Tottenham Hotspur Mauricio Pochettino. Ia resmi hengkang ke Spurs per Januari 2018 dengan biaya 25 juta euro. Mengikuti Serge Aurier yang telah bergabung dengan skuat asuhan Pochettino enam bulan sebelumnya.

Sejauh membela Tottenham, pemain berpostur 172 ini sudah mengemas 84 penampilan di semua kompetisi berikut 74 gol. Satu catatan apiknya meski belum lama di Spurs adalah hat-trick pada laga pekan ke-34 Liga Inggris, 13 April 2019 melawan Huddersfield Town.

Moura mengabadikan namanya sebagai pencetak trigol pertama di markas anyar Spurs, Tottenham Hotspur Stadium. Adapun di level tim nasional, Moura sudah tampil 35 kali untuk timnas Brasil sejak memulai debut pada Maret 2011.

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini