Laporan IAEA Soal Nuklir Iran Picu Bentrokan Diplomatik

Baca Juga

MATA INDONESIA, TEHERAN – Badan Pengawas Nuklir PBB (IAEA) mengatakan bahwa Iran gagal menjelaskan jejak uranium yang ditemukan di beberapa situs yang tidak diumumkan.

Pernyatan ini disampaikan IAEA dalam laporan triwulan, yang diyakini akan memicu bentrokan diplomatik baru antara Iran dengan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat (AS), sekaligus menggagalkan pembicaraan nuklir yang lebih luas.

Sebagai catatan, tiga bulan lalu, Jerman, Inggris, dan Prancis menggagalkan rencana AS untuk mengkritik Teheran lantaran tak mampu menjelaskan sepenuhnya mengenai asal usul partikel uranium.

“Direktur Jenderal prihatin bahwa diskusi teknis antara Agensi dan Iran tidak memberikan hasil yang diharapkan,” kata laporan itu, melansir Reuters, Selasa, 1 Juni 2021.

“Kurangnya kemajuan dalam mengklarifikasi pertanyaan IAEA mengenai kebenaran dan kelengkapan deklarasi perlindungan Iran secara serius mempengaruhi kemampuan IAEA untuk memberikan jaminan tentang sifat damai program nuklir Iran,” tambahnya.

Dalam laporan triwulanan terpisah yang juga dikirim ke negara-negara anggota, IAEA memberikan indikasi kerusakan pada produksi uranium yang diperkaya oleh Iran akibat ledakan dan pemadaman listrik di situs Natanz bulan lalu.

Setelah Washington menarik diri dari Kesepakatan Nuklir Iran pada 2018 di bawah Presiden Donald Trump dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang melumpuhkan sektor perekonomian Teheran, negara Persia tersebut mulai melanggar pembatasan kesepakatan pada 2019.

Salah satu pelanggaran yang belum lama ini dilakukan adalah memperkaya uranium hingga 60 persen –sebuah langkah besar menuju tingkat senjata yakni 20 persen yang telah dicapai sebelumnya dan batas kesepakatan sebanyak 3,67 persen.

IAEA memperkirakan bahwa negara yang dipimpin oleh Presiden Hassan Rouhani telah menghasilkan 2,4 kg uranium yang diperkaya ke tingkat itu dan 62,8 kg uranium yang diperkaya hingga 20 persen.

Produksi sejumlah percobaan logam uranium Teheran – yang dilarang berdasarkan kesepakatan, telah memicu protes negara-negara Barat karena potensi penggunaannya dalam inti senjata nuklir. Iran memproduksi 2,42 kg, IAEA melaporkan, naik dari 3,6 gram tiga bulan lalu.

Pada April, diadakan dialog di Kota Wina yang bertujuan membawa Iran dan AS kembali kepada kepatuhan Perjanjian Nuklir 2015 akan meningkat pekan depan, berdasarkan progress yang dicapai sejauh ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Langkah Koordinatif Ditempuh Untuk Jaga Stabilitas Rupiah

*) Oleh: Dinda ParamitaNilai tukar rupiah selalu menjadi salah satu indikator yang paling sensitif terhadapperubahan kondisi ekonomi global. Ketika ketidakpastian meningkat akibat gejolakgeopolitik, kebijakan moneter negara maju, maupun pergeseran arus modal internasional, tekanan terhadap mata uang negara berkembang hampir tidakterhindarkan. Dalam konteks tersebut, langkah cepat dan terkoordinasi yang dilakukan pemerintah bersama otoritas ekonomi menjadi faktor penting untuk menjagastabilitas dan membangun kepercayaan pasar. Karena itu, berbagai kebijakan yang saat ini ditempuh menunjukkan bahwa Indonesia tidak tinggal diam menghadapitantangan eksternal yang terus berkembang.Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwapemerintah telah mengidentifikasi tekanan utama terhadap rupiah berasal daridinamika aliran modal global. Pelemahan nilai tukar bukan semata-mata dipengaruhifaktor domestik, melainkan juga merupakan konsekuensi dari perubahan perilakuinvestor internasional yang cenderung mencari instrumen yang dianggap lebih amandi tengah ketidakpastian dunia. Oleh sebab itu, kesepakatan koordinatif antarapemerintah, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk meredam capital outflow menjadi langkah tepat. Sinergi antarlembaga menjadi fondasi penting agar respons kebijakan berjalan efektif dan tidak bergerak sendiri-sendiri.Koordinasi tersebut mencerminkan kematangan tata kelola ekonomi nasional dalammenghadapi tekanan pasar. Pengalaman berbagai krisis sebelumnya menunjukkanbahwa stabilitas ekonomi tidak dapat dijaga hanya dengan satu instrumen kebijakan. Dibutuhkan harmonisasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan agar mampu menciptakan efek penguatan yang saling melengkapi. Dalam situasi saat ini, langkah pemerintah memperkuat koordinasi justru mengirimkan sinyal positif bahwapengambil kebijakan memiliki kesamaan pandangan dalam menjaga stabilitasekonomi nasional.Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa arusmasuk dana asing mulai terlihat di pasar domestik. Indikasi tersebut menjadi kabarbaik karena menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih memilikidaya tarik di mata investor...
- Advertisement -

Baca berita yang ini