Kuremal Kulfi, Es Krim Tradisional India yang Berusia Lebih dari 100 Tahun

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA-Setiap negara memiliki kuliner khas yang sudah turun temurun ada dan selalu menjadi buruan para masyarakat maupun wisatawan ketika berkunjung. Seperti di India, ada kuliner legendaris berupa es krim tradisional yang sudah disajikan lebih dari 100 tahun yang lalu.

Es krim bernama Kuremal Kulfi yang populer di New Delhi, bukanlah makanan kekinian namun peminatnya tak pernah sepi, terutama ketika cuaca sedang panas terik.

Di jantung Kota Delhi, ada satu kedai es krim legendaris bernama Kuremal Mohan Lal Kulfi Wale. Kedai es krim ini sudah menyajikan es krim lebih dari 120 tahun. Dilansir dari situs resminya kuremalskulfi, es krim di sini terbuat dari 100 persen bahan alami dari buah segar.

Sejarah es krim ini berawal pada tahun 1900-an, Mr. Kuremal membuat es olahan buah yang ia jajakan di pasar Chawri. Lambat laun ia kemudian membuka kedai kecil di sebuah gang di sekitar pasar.

Zaman dahulu, Kuremal menggunakan teknik tradisional untuk membuat es krim lezat. Ia mengandalkan wadah dari tanah liat yang diberi isi lempengan es lalu wadah ini dijadikan tempat untuk menampung olahan buah yang kemudian membeku menjadi es.

Melihat usaha Kuremal yang sukses, banyak penduduk India yang mengikuti jejaknya namun es kulfi buatan Kuremal adalah yang paling enak. Usaha es milik Kuremal semakin melejit paska sang anak, Mohan Lal, membantu mengembangkan usaha.

Es krim klasik ini sekilas mirip sorbet karena bahan utamanya buah segar. Di awal pembukaan kedai ini setidaknya ada 5 pilihan rasa es krim mulai apel, delima, jeruk, mangga dan aneka campuran buah. Beberapa es krim juga dibuat dengan tambahan susu dan gula.

Kini usaha es krim dilanjutkan oleh generasi ke-4 Kuremal alias cicitnya yakni Anil. Meski tetap menggunakan resep dan teknik jadul, tapi kedai es krim terus berinovasi. Kini rasa es krimnya lebih variatif dengan menggunakan lebih banyak jenis buah.

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini