KUHP Baru Hadirkan Hukum Pidana Modern Dengan Pendekatan Restoratif

Baca Juga

Mata Indonesia, Jakarta – Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Baru menandai babak baru reformasi hukum pidana di Indonesia dengan mengedepankan pendekatan yang lebih modern, humanis, dan berkeadilan. Salah satu terobosan utama dalam KUHP Baru adalah penguatan prinsip keadilan restoratif yang menempatkan pemulihan korban, tanggung jawab pelaku, serta keharmonisan sosial sebagai tujuan utama penegakan hukum, bukan semata-mata penghukuman.

Pemerintah menilai KUHP Baru disusun sebagai respons atas dinamika sosial, perkembangan nilai masyarakat, serta kebutuhan sistem hukum nasional yang lebih kontekstual dan berorientasi pada keadilan substantif. Pendekatan restoratif dinilai relevan untuk mengatasi berbagai tindak pidana tertentu dengan mendorong penyelesaian yang adil bagi semua pihak, sekaligus mengurangi dampak negatif pemidanaan jangka panjang, seperti overcrowding lembaga pemasyarakatan.

Anggota Komisi III DPR RI, Rudianto Lallo mengatakan KUHP Baru memberikan ruang yang lebih luas bagi hakim untuk mempertimbangkan aspek sosial, kemanusiaan, serta kepentingan korban dalam menjatuhkan putusan. Pendekatan ini memungkinkan penyelesaian perkara melalui mekanisme pemulihan, perdamaian, dan pemulangan hubungan sosial yang sempat terganggu akibat tindak pidana.

“KUHP Baru tidak lagi memandang pidana penjara sebagai satu-satunya solusi. Pendekatan restoratif menjadi instrumen penting untuk menciptakan keadilan yang lebih manusiawi dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra menilai kehadiran KUHP Baru merupakan langkah progresif dalam membangun sistem hukum nasional yang berakar pada nilai Pancasila dan kearifan lokal. Pendekatan restoratif dinilai mampu mendorong partisipasi aktif korban, pelaku, dan masyarakat dalam proses penyelesaian perkara, sehingga hasilnya tidak hanya bersifat legal-formal, tetapi juga memberikan rasa keadilan yang nyata.

“Pendekatan restoratif dalam KUHP Baru menjadi jembatan antara kepastian hukum dan keadilan sosial. Ini penting agar hukum tidak sekadar menghukum, tetapi juga menyembuhkan luka sosial yang ditimbulkan oleh tindak pidana,” ungkapnya.

Selain itu, KUHP Baru juga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem peradilan pidana. Dengan penekanan pada proporsionalitas, ultimum remedium, dan pemulihan, penegakan hukum diharapkan menjadi lebih efektif, efisien, serta mampu mencegah terjadinya residivisme.

Pemerintah menegaskan bahwa implementasi KUHP Baru akan dibarengi dengan sosialisasi masif serta penguatan kapasitas aparat penegak hukum agar semangat hukum pidana modern dan restoratif dapat diterapkan secara konsisten. Dengan demikian, KUHP Baru diharapkan menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya sistem hukum pidana Indonesia yang adil, beradab, dan berorientasi pada pemulihan di masa mendatang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG dan Komitmen Pemerintah dalam Transparansi Anggaran Jaminan Gizi Berkualitas

Oleh: Dhita Karuniawati )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah terus diperkuat dari sisitata kelola anggaran agar pelaksanaannya berjalan transparan, akuntabel, dan tepatsasaran. Pemerintah menegaskan bahwa setiap komponen pembiayaan dalamprogram ini telah diatur secara ketat dan harus mengikuti standar yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa manfaat program benar-benar dirasakanoleh masyarakat, terutama anak-anak sebagai penerima utama program. Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalampelaksanaan MBG menegaskan bahwa anggaran untuk bahan makanan dalamprogram tersebut telah ditentukan secara jelas. Besaran anggaran tersebut beradapada kisaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi makanan, bukan Rp15.000 sepertiyang sempat beredar di masyarakat. Kebijakan ini ditetapkan agar penyedia makanandapat memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang bagi para penerima manfaat tanpamengabaikan prinsip efisiensi anggaran negara. Wakil Kepala Badan Bidang Komunikasi dan Investigasi BGN, Nanik S. Deyang, mengatakan bahwa angka Rp13.000–Rp15.000 yang muncul di beberapa sumber tidakmurni untuk bahan makanan, melainkan sudah termasuk biaya operasional, insentifmitra pelaksana, serta kebutuhan pendukung lain. BGN menegaskan bahwa semua penerima manfaat tetap akan memperoleh makananyang bergizi dan aman dikonsumsi. Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib mengawasi kualitas bahan makanan, memastikan menu sesuai standar gizi yang ditetapkan. Nanik mengatakan Program MBG tetap memperhatikan kelompok prioritas seperti ibuhamil, ibu menyusui, dan balita usia 6–59 bulan. Kualitas makanan menjadi prioritasutama agar tujuan gizi masyarakat tercapai secara optimal. Masyarakat juga diberikan ruang untuk melaporkan dugaan penyimpangan dalam menu MBG. BGN memastikan setiap laporan akan ditindaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku, demi menjaga transparansi dan akuntabilitas program. Dengan penegasan ini, BGN berharap publik memahami bahwa anggaran untuk bahanmakanan MBG tetap sesuai aturan Rp8.000–Rp10.000, dan setiap penerima manfaattetap memperoleh makanan bergizi tanpa mengurangi kualitas. Selain pengaturan standar anggaran, pemerintah juga memperkuat aspek transparansimelalui pengembangan sistem pelaporan keuangan yang terintegrasi. Upaya inidilakukan untuk memastikan bahwa seluruh proses pengelolaan dana dalam program MBG dapat dipantau dan diaudit dengan lebih mudah. Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kementerian Keuangan(Kemenkeu) meluncurkan E-Learning Penyusunan Laporan Keuangan pada SatuanPelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta Aplikasi Pelaporan Keuangan SPPG. Hal itusesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan negaradan peraturan menteri keuangan nomor 168/ PMK.05/ 2015 sttd. PMK 173/PMK.05/2016 dan PMK...
- Advertisement -

Baca berita yang ini