Koboi Penembak Pedagang Kopi di Tol Padalarang Ditangkap

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Jajaran Sat Reskrim Polres Cimahi akhrinya meringkus koboi brutal penembak pedagang kopi di Gerbang Tol (GT) Padalarang, di Ciamis, Jawa Barat, Senin 31 Desember 2019.

Polisi mengamankan sang eksekutor Awan Kurniawan, kemudian Pery Setiawan dan Beni Kurniawan. Dalam pengungkapan kasus ini, polisi juga menangkap Suryana, yang berperan sebagai sopir mobil yang dikendarai pelaku.

“Ketiga pelaku berhasil kami tangkap, pelaku utama ditangkap di Ciamis dan dua pelaku lainnya kami amankan di Kota Bandung,” ujar Kapolres Cimahi AKBP M Yoris Maulana Yusuf Marzuki di Mapolres Cimahi, Selasa 31 Desember 2019.

Sebelumnya, salah seorang dari tiga pria bermasker memberondong peluru gotri kepada seorang pedagang kopi asongan bernama Agus Sumpena (50) pada 20 Desember 2019 lalu.

Ketika itu korban tengah berjualan bersama ketiga rekannya di dekat GT Padalarang pada pukul 04.00 WIB. Tiba-tiba, ia ditembak di pipi sebelah kiri tanpa basa-basi.

Akibat aksi brutal tersebut, korban harus menjalani operasi untuk mengangkat peluru gotri di dahi dan rahang sebelah kiri Agus. Sementara lengan kanannya mengalami luka akibat menahan berondongan peluru.

Dalam kasus ini, polisi menyita sejumlah barang bukti di antaranya satu unit mobil Avanza warna perak, empat putri peluru gotri yang ditemukan di TKP, dua gotri yang bersarang di kepala korban, empat pucuk air gun, 7 handphone, tas bertuliskan Perbakin dan satu KTA Perbakin palsu.

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini