Kerusuhan di Timika, Polisi Temukan Peluru Senjata Rakitan di Lapangan

Baca Juga

MINEWS, PAPUA - Polisi hingga kini masih terus meningkatkan pengamanan pasca kerusuhan di Timika, Papua yang terjadi sejak Rabu 21 Agustus 2019 pagi tadi. Peningkatan keamanan ini menyusul adanya temuan peserta demonstrasi yang membawa dan menembakkan senjata rakitan.

Dijelaskan Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto, saat massa membubarkan diri dari halaman kantor DPRD Mimika, kemudian mulai terjadi pengrusakan fasilitas umum dan kendaraan di sejumlah ruas jalan.

Ketika pengrusakan terjadi, pemilik salah satu dealer kendaraan di Timika mengaku bangunannya ditembaki oleh peserta unjuk rasa.

Agung menyebut, setelah pihaknya memeriksa proyektil yang ditemukan dilokasi, dipastikan bahwa itu bukan berasal dari senjata organik TNI ataupun Polri, melainkan dari senjata rakitan yang diduga dibawa oleh demonstran.

“Sepertinya mau ditembakkan ke petugas, jadi kami minta TNI dan anggota Polri untuk meningkatkan kewaspadaan,” kata Agung di Timika.

Kerusuhan yang terjadi di Timika telah membuat suasana semakin memanas. Apalagi, polisi mengidentifikasi adanya penumpang gelap yang memprovokasi warga untuk melakukan tindakan anarkis.

Setelah kerusuhan mulai terkendali, polisi mengamankan 45 orang yang diduga melakukan tindak kekerasan di tengah demonstrasi yang berlangsung. Setelah ditelusuri mendalam, sebanyak 34 dari jumlah tersebut akan diproses secara hukum.

Adapun korban luka saat kerusuhan berjumlah tiga orang, mereka adalah anggota TNI dari Detasemen Kavaleri 3/Srigala Ceta, anggota Polres Mimika dan anggota Brimob Detasemen B Polda Papua.

Berita Terbaru

Satelit Indonesia dan Jalan Panjang Menjaga Kedaulatan Informasi Nasional

Oleh: Abdul Nuhaiman*Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat kedaulataninformasi nasional melalui percepatan pembangunan infrastruktur satelit sebagaifondasi transformasi digital Indonesia. Langkah strategis tersebut tidak hanyamemastikan konektivitas menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), tetapi juga memperkuat ketahanan nasional di bidangkomunikasi, ekonomi digital, pendidikan, kesehatan, hingga pertahanan dan keamanan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi global, penguatan kapasitassatelit nasional menjadi bukti bahwa pemerintah mempersiapkan Indonesia agar mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju sebagai bangsa yang mandiri, berdaulat, dan berdaya saing dalam mengelola ruang digital maupun ruang antariksa. Peluncuran satelit multifungsi SATRIA-1 menjadi salah satu langkah penting dalammemperluas akses internet, khususnya di wilayah terpencil, terluar, dan tertinggal. Satelit tersebut dirancang untuk melayani ribuan titik layanan publik seperti sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, hingga fasilitas pertahanan dan keamanan. Kehadiran satelit nasional bukan hanya mempersempit kesenjangan digital antarwilayah, tetapi juga memberikan kesempatan yang lebih merata bagi masyarakatdalam memperoleh layanan pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi digital. Dengansemakin luasnya akses internet, peluang pengembangan usaha mikro, pembelajarandaring, dan pelayanan publik berbasis digital juga semakin meningkat.Di sisi lain, penguasaan satelit tidak cukup hanya dengan memiliki perangkat yang mengorbit di angkasa. Indonesia juga perlu membangun ekosistem industri antariksayang kuat, mulai dari pengembangan sumber daya manusia, riset teknologi, manufaktur komponen, hingga kemampuan mengoperasikan dan memelihara satelitsecara mandiri. Selama ini sebagian besar teknologi satelit masih melibatkan kerjasama dengan perusahaan luar negeri. Kerja sama tersebut memang penting sebagaibagian dari transfer teknologi, namun dalam jangka panjang Indonesia perlumeningkatkan kemampuan nasional agar tidak terus bergantung pada negara lain. Perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri teknologi, dan pemerintah perlumemperkuat kolaborasi agar inovasi di bidang antariksa dapat berkembang secaraberkelanjutan.Selain aspek teknologi, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah perlindunganterhadap data nasional. Perkembangan kecerdasan buatan, komputasi awan,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini