Kepala Suku Ngalik Nilai Penolakan Otsus karena Diprovokasi Benny Wenda dan Sebby Sambon

Baca Juga

MATA INDONESIA, YAHUKIMO – Kepala Suku Ngalik, Distrik Silimo, Yahukimo Leonard Giban mengungkapkan fakta mengejutkan terkait penolakan Otsus Papua.

Ia mengatakan bahwa penolakan Otsus yang datang dari masyarakat disebabkan oleh provokasi sejumlah pihak yang ingin memecah belah Papua.

“Orang Asli Papua mudah saja diprovokasi oleh orang-orang yang berada di luar Papua. Benny Wenda (Ketua ULMWP) dan Sebby Sambon (Jubir OPM) adalah Orang Papua yang tidak tahu apa pun terkait kondisi di Papua, mereka tidak hadir disini, mereka hanya bersembunyi dan memprovokasi dari luar negeri,” katanya, dikutip Senin 4 Oktober 2021.

Leonard juga memberikan dukungannya atas helatan PON Papua yang baru saja dibuka Presiden Jokowi pada 2 Oktober lalu.
Menurutnya, PON XX Papua merupakan hadiah kepercayaan dari negara dan pemerintah kepada Orang Papua.

“Ada poin penting yang didapat melalui PON yaitu Orang Papua bisa dan mampu menyelenggarakan suatu acara besar,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Tokoh Masyarakat Distrik Silokarno Doga Wempi Mabel. Ia juga memberikan dukungan atas kelanjutan Otsus Papua jilid II.

Ia menilai kehadiran Otsus selama ini telah memberikan banyak manfaat untuk masyarakat Papua.

“Kami sebagai tokoh masyarakat Distrik Silokarno Doga selalu memikirkan kesejahteraan masyarakat dan anak cucu kami kedepannya supaya kehidupannya sejahtera,” katanya.

Ia juga berharap kelak imbas positif dari Otsus bisa dirasakan oleh anak cucu di masa yang akan datang.

Wempi juga berharap pembentukan DOB Papua, pemekaran kabupaten, pemekaran distrik, dan pemekaran kampung akan menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi anak muda di daerahnya.

“Karena selama ini Otsus hanya dapat di nikmati oleh para pejabat pusat dan daerah saja,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini