Kejar Vaksinasi 14 Januari, 30.000 Dosis Tiba di Palembang Dikawal Ketat

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Vaksin Covid19 dari Sinovac sudah mulai didistribusikan ke daerah agar vaksinasi bisa dilaksanakan 14 Januari 2021. Pada, Senin 4 Januari 2021 ini setidaknya 30.000 dosis sudah tiba di Palembang, sekitar pukul 06.30 WIB dengan pengawalan ketat kendaraan taktis (Rantis).

Vaksin itu dibawa langsung dari Bio Farma Bandung mendapat pengawalan ketat dari aparat keamanan sampai dikawal dengan kendaraan taktis Baracuda.

Menurut Kepala Seksi Suveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Yusri, pengiriman itu adalah yang perdana. Sumatera Selatan telah mendapat alokasi 58.000 dosis vaksin yang akan dikirim ke tujuh kabupaten/kota.

Pengiriman tersebut terpaksa dilakukan dua tahap karena kapasitas gudang penyimpangan vaksin di Dinas Kesehatan Sumatera Selatan sangat terbatas.

Yusri seperti dilansir antaranews memperkirakan dalam tiga hari vaksin-vaksin itu sudah habis terkirim ke kabupaten/kota.

Setelah itu, mereka baru meminta pengiriman kedua sebanyak 28 ribu vaksin yang diperkirakan datang pada Februari 2021.

Vaksin itu akan disimpan di setiap pemerintah kabupaten/kota sampai ada instruksi vaksinasi serentak sekitar 14 Januari 2021.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan akan menyiapkan 2.250 tenaga kesehatan untuk pelaksanaan vaksin tersebut.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini