Kejar Kekebalan Bersama, BIN Gencarkan Vaksinasi di Banjarnegara

Baca Juga

MATA INDONESIA, BANJARNEGARA – Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Jawa Tengah atau Binda Jateng kembali menggelar vaksinasi massal di Banjarnegara, Kamis 2 Desember 2021.

Kabinda Jateng Brigjen TNI Sondi Siswanto menjelaskan bahwa kegiatan vaksinasi ini dilakukan dalam rangka untuk terus mendukung percepatan program vaksinasi COVID-19 di wilayah setempat guna mencapai target kekebalan kelompok.

Dia menjelaskan pihaknya menyelenggarakan vaksinasi massal bagi masyarakat di wilayah Banjarnegara secara jemput bola.

“Kami melakukan vaksinasi massal secara ‘door to door’ untuk dua kecamatan di Banjarnegara yakni di Desa Pucang dan Majalengka Kecamatan Bawang serta Desa Sembawa dan Desa Sikumpul Kecamatan Kalibening,” katanya.

Dalam kegiatan vaksinasi massal di Kabupaten Banjarnegara tersebut, Binda Jateng menyediakan sebanyak 4.000 dosis vaksin.

Sondi menambahkan, pelaksanaan vaksinasi massal tersebut sebagai upaya meningkatkan capaian vaksin di wilayah Kabupaten Banjarnegara, terutama untuk kelompok disabilitas dan juga para lansia.

“Kegiatan ini juga merupakan bagian dari komitmen Binda Jateng yang terus berupaya untuk memberikan pelayanan vaksinasi bagi masyarakat secara luas,” ujarnya.

Ia mengatakan hal tersebut diambil untuk mendukung kebijakan BIN dalam menyelesaikan target 2.000.000 dosis vaksin secara nasional dalam dua bulan ke depan.

“Binda Jateng mendapatkan alokasi vaksin sebanyak 177.000 dosis yang harus dihabiskan hingga akhir tahun 2021 sehingga kami terus menggencarkan kegiatan vaksinasi massal,” katanya.

Ia juga menilai bahwa kegiatan vaksinasi massal merupakan salah satu upaya strategis yang perlu dilakukan dalam rangka mewujudkan kekebalan tubuh masyarakat.

“Ini merupakan bagian dari program percepatan vaksinasi yang terus digesa oleh pemerintah terutama menjelang Libur Natal dan Tahun Baru,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Refocusing Anggaran MBG Makin Berpihak pada Kerentanan

Oleh: Alexander Royce*)Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak baru. Setelah lebih dari satutahun berjalan dan menjangkau jutaan penerima manfaat di berbagai daerah, pemerintah kini melakukan refocusing atau penajaman sasaran program. Langkahtersebut bukan sekadar upaya efisiensi anggaran, melainkan bagian dari strategi untukmemastikan setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar memberikan dampakmaksimal terhadap perbaikan gizi masyarakat, khususnya kelompok yang paling rentan.Di tengah tantangan fiskal global, tekanan ekonomi internasional, serta kebutuhanpembangunan di berbagai sektor, pemerintah memilih pendekatan yang lebih terukur. Fokus tidak lagi semata-mata pada besarnya jumlah penerima manfaat, tetapi padakualitas intervensi dan ketepatan sasaran. Pendekatan ini menunjukkan bahwapemerintah tidak sedang mengurangi komitmen terhadap pembangunan sumber dayamanusia, melainkan memperkuat efektivitas program agar hasilnya lebih nyata.Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, menjadi figur yang pertama kali menjelaskan arah kebijakan baru tersebut. Menurutnya, pemerintah telah memutuskanuntuk menggeser orientasi program dari mengejar kuantitas menuju peningkatankualitas pelaksanaan. Dalam berbagai kesempatan, Nanik menegaskan bahwa BGN tidak lagi menjadikan target puluhan juta penerima sebagai satu-satunya ukurankeberhasilan program. Sebaliknya, perhatian diarahkan pada kelompok yang paling membutuhkan intervensi gizi, terutama masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, danterluar (3T), wilayah dengan prevalensi stunting tinggi, serta kelompok rentan lainnya. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah sedang membenahi tata kelola program melaluirefocusing penerima manfaat, optimalisasi dapur yang sudah ada, moratorium pembangunan dapur baru, serta pencarian sumber pendanaan alternatif agar bebanAPBN dapat lebih terkendali. Langkah tersebut diyakini dapat menghasilkanpenghematan yang signifikan sekaligus meningkatkan kualitas layanan gizi yang diterima masyarakat.Lebih jauh, Nanik menilai bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukanoleh jumlah paket makanan yang dibagikan setiap hari. Yang jauh lebih penting adalahsejauh mana program mampu menurunkan angka stunting, memperbaiki status gizianak, serta meningkatkan kualitas kesehatan ibu hamil dan kelompok rentan. Karenaitu, pemerintah memilih untuk mengarahkan sumber daya pada wilayah yang selama inijustru belum banyak tersentuh layanan gizi. Pendekatan tersebut sejalan denganarahan Presiden agar manfaat program dapat lebih dahulu dirasakan oleh masyarakatyang menghadapi kerentanan paling tinggi. Setelah arah kebijakan tersebut dijelaskan oleh Kepala BGN, Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari kemudian memberikan gambaran lebih rinci mengenai implementasirefocusing yang sedang disiapkan pemerintah. Menurut Agustina, BGN saat inimelakukan berbagai simulasi untuk memastikan bahwa indikator keberhasilan program dapat dicapai secara lebih efektif dan spesifik. Evaluasi dilakukan terhadap komposisipenerima manfaat agar intervensi gizi benar-benar menyasar kelompok yang memilikikebutuhan paling besar. Ia menjelaskan bahwa pemerintah sedang menelaah kembalicakupan penerima manfaat yang sebelumnya dirancang sangat luas, sehingga program dapat menjadi lebih tepat sasaran dan berkelanjutan dalam jangka panjang.Agustina juga menekankan bahwa proses penyesuaian tersebut merupakan bagiannormal dari perencanaan anggaran pemerintah. Dengan mempertimbangkan efektivitasprogram dan kondisi fiskal negara, pemerintah berupaya memastikan bahwa setiapalokasi anggaran memberikan manfaat yang optimal. Dalam berbagai pembahasananggaran tahun 2027, BGN mengkaji kemungkinan pengurangan penerima manfaatyang dinilai tidak lagi menjadi prioritas utama, sehingga ruang fiskal dapat difokuskankepada kelompok yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi. Pendekatan inimenunjukkan bahwa pemerintah tidak mengurangi perhatian terhadap isu gizi, melainkan memperkuat ketepatan sasaran kebijakan.Pandangan tersebut mendapat dukungan dari kalangan pasar dan pelaku ekonomi. Head of Research Kiwoom Sekuritas,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini