Kaum Milenial Perangi Covid-19 Melalui Program 10 Rumah Aman

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Anak-anak milenial Jakarta mulai bergerak. Kids zaman now ikut merespons potensi sebaran Covid-19 di lingkungan sekitar secara begotong royong.

Menggunakan media program 10 Rumah Aman milik Kantor Staf Presiden (KSP), mereka turun tangan langsung menjadi aktivis Dasa Wisma.

Aksinya dengan melakukan penyemprotan disinfektan anti Covid-19.

Apresiasi harus diberikan bagi kaum milenial RT.10/RW.03, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Tergabung bersama Remaja Karang Taruna/Ikatan Remaja Sepuluh Tiga (Iresti), sebanyak 7 anggotanya melakukan penyemprotan disinfektan, Minggu (5/4).

Menggunakan peralatan lengkap dan memenuhi aspek keamanan, mereka berkeliling melakukan penyemprotan disinfektan. Mendatangi rumah sekitar 150 kepala keluarga satu per satu.

“Covid-19 menjadi isu bersama yang harus dihadapi dan ditanggulangi secara bergotong royong. Untuk itu, kami melakukan penyemprotan. Harapannya, wilayah kami tetap terbebas dari pandemi Covid-19. Selaku generasi penerus bangsa, aksi ini tentu menjadi bentuk riil kepedulian kami kepada lingkungan,” ujar anggota Remaja Karang Taruna/Iresti Achmad Al Hafiz, Minggu 5 April 2020.

Untuk membunuh virus Corona, ada beberapa cairan antiseptik yang lazim digunakan. Klasifikasinya adalah polyvidone iodine, chlorhexidine, dan alkohol. Mengacu rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), cairan etanol dan klorin bisa digunakan sebagai antiseptik penyemprotan. Hanya saja, cairan itu tidak direkomendasikan untuk tubuh atau bilik sterilisasi.

Menjadi antiseptik bagi fasilitas umum dan perumahan, cairan ini memiliki sifat karsinogenik.

Sifat lain bisa memicu mutasi bakteri. “Kami menggunakan cairan disinfektan yang direkomendasikan institusi resmi. Tujuannya agar aman bagi semua, tapi tetap efektif membunuh virus Corona. Cairan disinfektan ini juga menjadi hasil dari gotong royong,” kata Hafiz.

Cairan disinfektan menjadi logistik vital aktivitas penyemprotan Covid-19. Selain industri besar, cairan ini bisa diproduksi rumahan. Bahan baku utamanya adalah pemutih atau sodium hipoklorit. Larutan ini mengandung 5 persen sodium hipoklorit. Siapkan juga air dan beberapa peralatan, seperti botol, gelas ukur, sarung tangan karet, dan masker N95. Caranya, campur pemutih dengan air dalam botol lalu diaduk.

“Konsep gotong royong warga sangatlah kuat. Untuk peralatan penyemprotan dan cairannya diperoleh dari donatur. Penyemprotan disinfektan jadi agenda rutin. Sebelumnya sudah 2 kali disemprot. Yang jelas, kami sangat gembira dengan bergabungnya para milenial ini sebagai aktivis Dasa Wisma,” ujar Yana selaku Ketua RT.10/RW.03, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Serupa RT.10/RW.03, Pondok Labu, Cilandak, kepedulian para milenial juga tampak di RT.014/RW.02 Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Dilakukan secara swadaya, kaum remaja juga aktif sebagai aktivis Dasa Wisma. Tugas mereka bahkan cukup beragam untuk memastikan 38 rumah warganya negatif Covid-19. Ketua RT.014/RW.02 Bendungan Hilir, Rani Eddy, mengatakan, aktifnya para milenial jadi keuntungan.

“Kepedulian para anak muda ini sangat menginspirasi. Meski tugas rutinnya banyak, mereka tetap jadi aktivis Dasa Wisma. Mereka terlibat hampir di semua action program 10 Rumah Aman. Selain kegiatan penyemprotan, mereka juga aktif mendata suhu tubuh warga dan sosialisasi amal. Bergabungnya para anak muda ini membuat tugas kami semakin ringan,” kata Rani.

Bergabungnya kaum milenial sebagai aktivis Dasa Wisma diapresiasi Kepala Staf Presiden Moeldoko. Panglima TNI periode 2013-2015 menjelaskan, semua elemen bangsa harus terlibat aktif dalam memerangi Covid-19. Dengan begitu, kehidupan berbangsa dan bernegara akan kembali normal. Setiap masyarakat bisa kembali mengambil perannya untuk menghasilkan karya produktif bagi Indonesia.

“Kami berikan penghargaan yang tinggi bagi para aktivis Dasa Wisma program 10 Rumah Aman. Mereka selalu mengambil peran saat bangsa dan negara membutuhkannya. Pandemi Covid-19 ini harus segera diatasi secara bergotong royong. Dengan begitu, semuanya akan normal kembali. Bergabungnya milenial tentu menjadi angin segar karena ada nilai edukasi yang besar di situ,” ujar Moeldoko.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Negara Membuka Dialog dan Mendengar Aspirasi Mahasiswa

*) Oleh: M. Farhan Akbar Demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari terselenggaranya pemilihan umumyang bebas dan adil, tetapi juga dari kemampuan negara membangun komunikasiyang terbuka dengan masyarakat. Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki posisistrategis sebagai kelompok intelektual yang kerap menyuarakan kritik, gagasan, sekaligus solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Kehadiran ruang dialog yang setara antara pemerintah dan mahasiswa menjadi indikator penting bahwa demokrasiberjalan secara substantif, bukan sekadar prosedural. Oleh karena itu, komitmenpemerintah untuk terus membuka ruang komunikasi patut dipandang sebagai langkahyang memperkuat kualitas tata kelola pemerintahan sekaligus memperkokohkepercayaan publik.Berbagai capaian pembangunan yang terus diupayakan pemerintah, mulai daripenguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga program pemberdayaanekonomi masyarakat, membutuhkan dukungan situasi yang aman dan kondusif. Karena itu, sinergi antara pemerintah, mahasiswa, akademisi, dan masyarakatmenjadi modal penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalan secaraoptimal dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.Lebih lanjut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa setiap aspirasi memilikinilai yang sama, baik berasal dari akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat di daerah terpencil. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak dapatdilepaskan dari partisipasi publik yang inklusif. Negara yang kuat bukanlah negara yang menutup diri terhadap kritik, melainkan negara yang mampu mendengarpersoalan, mengakui kekurangan, serta menjadikan masukan masyarakat sebagaidasar penyempurnaan kebijakan. Pendekatan seperti ini mencerminkankepemimpinan yang adaptif karena menempatkan dialog sebagai instrumen untukmenghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.Selanjutnya, keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa menunjukkanadanya perubahan paradigma dalam hubungan antara negara dan masyarakat sipil. Mahasiswa tidak lagi diposisikan semata sebagai kelompok penekan, tetapi sebagaimitra strategis dalam proses pembangunan nasional. Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai kritik dapat diterjemahkan menjadi bahan evaluasi, sedangkanberbagai gagasan dapat diolah menjadi rekomendasi kebijakan yang konstruktif. Pendekatan kolaboratif seperti ini memperkuat legitimasi kebijakan sekaligusmemperkecil potensi polarisasi yang sering muncul akibat minimnya komunikasiantara pemerintah dan publik.Pandangan tersebut diperkuat oleh Direktur Eksekutif Kata Rakyat, Alwan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini