Kasus Maria Pauline Lumowa Juga Seret Jenderal Polisi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Maria Pauline Lumowa membobol BNI 46 cabang Kebayoran Baru hingga Rp 1.2 Triliun itu tidak sendirian. Ada Adrian Woworuntu hingga Dicky Iskandar Di Nata serta jenderal polisi yang terlibat.

Adrian dan Dicky sudah dijatuhi vonis dan termasuk kategori koruptor yang masih mendapat hukuman berat. Adrian mendapat vonis hukuman penjara seumur hidup dan Dicky hukuman 20 tahun penjara, padahal tuntutan jaksa saat itu adalah hukuman mati.

Dicky yang juga ayah dari sutradara Indonesia, Nia Dinata akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina 28 November 2015.

Selain Maria, Adrian, dan Dicky serta John Hamenda dari pihak swasta, kasus pembobolan itu menyeret sejumlah pegawai BNI dan jenderal polisi.

Para pegawai BNI itu dijatuhi hukuman lebih ringan seperti Edy Santosa yang mantan Kepala Bagian Customer Service Luar Negeri pada Kantor Utama Cabang Bank BNI Kebayoran Baru dijatuhi vonis 16 tahun penjara, sedangkan dua pegawai lainnya dijatuhi vonis lima tahun penjara.

Sedangkan jenderal polisi yang terseret karena pernah menangani kasus itu karena menerima hadiah dari Adrian adalah Komisaris Jenderal Suyitno Landung harus mendekam di penjara selama 1 tahun dan 6 bulan karena menerima sebuah mobil Nissan X-Trail. Mobil itu diserahkan konsultan bisnis Adrian, Ishak.

Selain Landung, Direktur Kriminal Khusus Mabes Polri, Brigjen Samuel Ismoko harus dipenjara selama 13 bulan karena menerima uang Rp 250 juta dari BNI dan Rp 180 juta dari Adrian. Di duga Samuel berperan dalam upaya pelarian Adrian sebelum berhasil ditangkap kembali.

Kedua jenderal itu diduga sengaja membuat berkas kasus tersebut harus tujuh kali bolak-balik ke jaksa penuntut umum (JPU) hingga masa tahanan Adrian habis sehingga bisa melarikan diri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dari Laboratorium ke Industri: Momentum Hilirisasi Riset Indonesia

Oleh: Juniansyah Putra)*Kemajuan sebuah bangsa pada era modern ditentukan oleh kemampuannyamengubah pengetahuan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagimasyarakat. Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya manusia yang terus berkembang, jaringan perguruan tinggi yang semakin kuat, serta dukunganpemerintah terhadap penguatan riset dan teknologi. Dalam konteks tersebut, hilirisasi riset menjadi langkah strategis untuk mempercepat transformasi Indonesia menuju negara maju berbasis inovasi.Pemerintah menempatkan pengembangan riset dan inovasi sebagai salah satufondasi penting pembangunan nasional. Berbagai kebijakan diarahkan untukmemastikan hasil penelitian tidak hanya menjadi kontribusi akademik, tetapi juga dapat berkembang menjadi teknologi, produk, dan layanan yang meningkatkanproduktivitas, memperkuat industri nasional, serta membuka peluang ekonomi baru. Langkah ini menunjukkan komitmen kuat negara dalam membangun ekosisteminovasi yang berdaya saing global.Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwaperguruan tinggi memiliki peran sentral sebagai motor penggerak hilirisasi risetnasional. Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sumber lahirnya teknologidan solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia usaha. Melalui kolaborasi antarkampus dan kemitraan dengan berbagai sektor, potensi risetIndonesia dapat dimanfaatkan secara lebih luas dan lebih cepat.Brian menjelaskan bahwa budaya inovasi di lingkungan perguruan tinggi terusdiperkuat agar para peneliti terdorong menghasilkan karya yang memiliki nilaitambah tinggi. Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma penting dalampembangunan nasional, yaitu menjadikan penelitian sebagai penggerakpertumbuhan ekonomi sekaligus sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Publikasi ilmiah tetap menjadi indikator kualitas akademik, namun keberhasilan risetjuga diukur dari sejauh mana inovasi tersebut memberi dampak nyata bagikehidupan masyarakat.Untuk mendukung transformasi tersebut, pemerintah bersama perguruan tinggi terusmemperkuat ekosistem inovasi melalui pengembangan inkubator bisnis, pusatinovasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta kemudahan kemitraan dengandunia usaha. Langkah-langkah ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagilahirnya perusahaan rintisan berbasis teknologi dan pengembangan industri nasionalyang lebih modern.Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif...
- Advertisement -

Baca berita yang ini